29 Januari 2009

Baitul Maqdis Bukan Masjid Al Aqso

Kebanyakan Ummat Islam hingga kini (Tahun 1430 Hijriah / 2009 Masehi) masih menganggap Mesjid Sulaiman (Solomon Temple) atau sering disebut Baitul Maqdis, yang ada di Yerusalem (wilayah yg diperebutkan Arab dan Israel) sebagai Masjid AL Aqso yang termaktub dalam QS 17 ayat 1.
Padahal jika Masjid Al Aqso, yang berarti “Mesjid Yang Jauh” seperti tercantum pada ayat diatas, dianggap sebagai Baitul Maqdis yang di Palestina, maka ini akan kontradiktif (bertentangan) dengan QS 30 ayat 2 – 3, dimana dikatakan pada ayat tersebut bahwa Palestina adalah “Negeri Yang Dekat”. Dan jika dikondisikan dengan masa kini (ingat, Al Qur’an berlaku sepanjang zaman) maka istilah masjid yang jauh untuk Baitul Maqdis menjadi tidak relevan lagi, karena banyak mesjid yang berjarak lebih jauh dari Masjid Al Harom dibanding Baitul Maqdis, misal Masjid Istiqlal di Jakarta. Dan tidak mungkin di dalam Al Qur’an ada kontradiktif antar ayat-ayat-NYA.

Apalagi jika melihat sejarah saat Nabi Muhammad saw masih hidup, Masjid Sulaiman (Baitul Maqdis) saat itu berstatus Gereja Nasrani yang digunakan oleh masyarakat Israel & Arab disekitarnya untuk ritual keagamaannya. Dan tidak mungkin Nabi akan berkiblat ke Baitul Maqdis jika kondisinya seperti itu, apalagi untuk di-Isra’kan kesana. Tidak mungkin. Dan hal ini ditegaskan dalam QS 2 ayat 145 bahwa Nabi Muhammad saw tidak pernah berkiblat pada kiblat agama lain.

Jadi saat sebelum Nabi Muhammad saw berkiblat ke arah Ka’bah (yang saat itu dipenuhi patung sesembahan musyrikin Arab) di Mekkah, Beliau berkiblat ke arah Kutub Utara, yang jika ditarik garis lurus seakan melewati wilayah sekitar Baitul Maqdis. Baginda Nabi saw telah mengetahui bahwa Wilayah Mekkah dulunya (sebelum Banjir Noah as) adalah Kutub Utara (sebelum dipindahkan ALLAH swt saat banjir besar tersebut ke Kutub Utara Sekarang ).
Ingat, saat itu belum ada manusia yang menyadari bahwa bumi bulat, manusia saat itu hingga ratusan tahun kemudian, masih menganggap bumi datar dan menjadi pusat tata surya.
Tapi Muhammad saw yang telah di-isra-kan oleh ALLAH swt telah diberikan ilmu mengenai susunan tata surya dan diberi ilham mengenai sejarah bumi dahulunya. Ini bisa dilihat pada QS 53 ayat 18 dan QS 2 ayat 144, sehingga ALLAH swt mengembalikan Kiblat bagi Muhammad saw dan Ummatnya ke Ka’bah di Mekkah, mengabulkan do’a Sang Nabi saw.

Berdasarkan uraian diatas, bisa ditegaskan bahwa wilayah Baitul Maqdis (Solomon Temple) di Yerusalem bukanlah kota suci bagi ummat islam. Dan Masjid Al Aqso yang sebenarnya, yang dimaksud sebagaimana yang tertera dalam QS 17 ayat 1, ada di Sidratul Muntaha.

Sementara Ardul Muqodas di sekitar Yerusalem adalah Kota Suci bagi Bangsa Israel, semenjak zaman Nabi Ya’kub as, Yusuf as, Daud as, dan mencapai puncak kejayaannya pada masa Nabi Sulaiman as (King Solomon), yang salah satu peninggalan bersejarahnya adalah Baitul Maqdis (Solomon Temple).

Dan cukuplah “Makkah Al Mukarromah” sebagai satu-satunya tempat suci bagi Ummat Islam pengikut Rosulullah Muhammad saw, sebagaimana ALLAH swt telah memuliakan kota itu sebagai “Balad Al Amin = Negeri Yang Aman”, dimana semua Ummat Islam berkiblat ke sana (Ka’bah), saat sholat, towwaf, dan ibadah ritual lainnya. Wallahu a’lam.

(Disadur dari buku “Al Qur’an Dasar Tanya Jawab Ilmiah” karya Nazwar Syamsu, diterbitkan oleh Ghalia Indonesia, Tahun 1396 Hijriah).
#Abu Rafa Ibnu Nasuki#

15 Januari 2009

Israel vs Arab = Konflik Dua Bersaudara Se-Ayah Beda Ibu

......
No more presidents
And all the wars will end
One united world
Under GOD
("When The Children Cry" by White Lion)


Masalah terbesar yang “melapisi pikiran” dari (kebanyakan) Bangsa Arab adalah mereka seperti terhenti pada sekedar meng-IMAN-i nabi Muhammad saw, Nabi Ismail as, dan Nabi Ibrahim as. Sementara bagi (kebanyakan) Bangsa Israel masalah terbesarnya adalah mereka seperti terhenti pada sekedar meng-IMAN-i Nabi Musa as, Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, dan Nabi Yakub as.
Kebanyakan dari kedua Suku Bangsa itu lupa bahwa mereka adalah sama-sama ber-BAPAK MOYANG Nabi Ibrahim as.
Sedang masalah keyakinan beragama, ingat : La Ikroha Fid Dien (tidak ada paksaan dalam memilih dan memeluk suatu agama), karena itu JELAS dinyatakan ALLAH swt dalam Al Qur’an. Dan atas resiko pilihan diatas dan konsekwensi serta konsistensinya hanya akan berbuah (reward) SURGA atau NERAKA.
Dalam sejarahnya, Bangsa Arab dan Bangsa Israil (kecuali Para Nabi dan Orang Sholih dari kedua Suku Bangsa Tesebut, yang setia berpegang teguh pada ajaran kitab suci) saling bergantian untuk saling menindas dan menzolimi (atas dasar politik). Dan musuh-musuh para Nabi juga banyak yang datang dari kedua suku bangsa tersebut (silahkan baca sejarah Para Nabi, setidaknya setelah periode Banjir Noah atau mulai periode Nabi Ibrahim as).
Satu hal yang pasti, bom-bom israel ataupun roket-roket hamas, kesemuanya menyisakan penderitaan bagi anak-anak bangsa Arab dan Israel, mereka adalah korban yang benar-benar tak berdosa atas ke-tidak rukun-an dan ke-tidak rendah hati-an para orang tua mereka.
Jadi sebelum ber-aksi atau ber-reaksi atas masalah Konflik Israel dengan Palestina/Lebanon/Mesir, ingat kembali perintah PERTAMA & UTAMA dari ALLAH swt kepada seluruh manusia sebelum Rukun Islam dan Rukun Iman yaitu : IQRO, yang maknanya baca, telaah, analisa, pahami, renungkan atas ayat-ayat ALLAH swt dalam Al Qur’an dan semesta raya, bahkan pada diri kita sendiri.
Jangan sampai, dengan keras dan lantang kita mengecam Israel (Yahudi) secara generalisir, tetapi kelakuan kita sehari-hari tidak lebih baik dari yang kita kecam tersebut, misalnya sholat lalai, zakat pelit, tadarus Qur'an jarang, bersikap sopan sulit, berpakaian sesuai syariat emoh, hobby makan di restoran fast food mereka, hubungan bertetangga napsi-napsi, dan berbisnis dengan jujur serta adil cuma prioritas ketigabelas.
Marilah kita belajar hidup sesuai tuntunan Rosulullah Muhammad saw yang merupakan Al Qur'an Berjalan, baik kepada diri sendiri, dalam keluarga, lingkup bekerja, bahkan terhadap musuh Islam sekalipun.
(Pragraf terakhir ini terkait juga dengan postingan saya yg berjudul "Dikotomi Menyesatkan Jilid 1 : ILMU").
#Abu Rafa Ibnu Nasuki#