18 Oktober 2016
Memilih Wali Daerah
Gubernur adalah Wali Provinsi
Kotamadya dikepalai oleh Wali_Kota
Wali Kabupaten disebut Bupati
WALI adalah ‘bentuk tunggal/singular’, bentuk jamak/plural-nya AULIYA (dalam bahasa Arab).
Wali ataupun Auliya konotasinya adalah PEMIMPIN atau Kepala, yang memiliki fungsi diantaranya sebagai pelindung, penolong, atau sahabat dekat yang bisa dimintakan bantuan.
Dalam istilah Demokrasi Indonesia, memilih Wali Provinsi, Wali Kota, dan Wali Kabupaten, disebut dengan istilah PILKADA, yakni singkatan dari Pemilihan Kepala Daerah.
Memilih Kepala Rumah Tangga saja ada bimbingan syarat dan rukun-nya menurut Agama (dalam konteks agama islam, mengacu Al Qur’an & Uswah Hasanah dari Sang Nabi)
Apalagi memilih Kepala/Pemimpin/Wali/Auliya dari suatu kabupaten/Kotamadya/Provinsi yang “Fungsi & Kewenangan”-nya sangat LUAS dan berpengaruh besar bagi Hajat Hidup Ratusan Ribu bahkan Jutaan Manusia, baikitu soal ekonomi, kesehatan, pendidikan, layanan umum, izin pendirian juga pembongkaran rumah/gedung/tempat_ibadah, hingga izin soal perayaan ibadah dan tradisi keagamaan.
Jadi,,, buat yang ber-agama,,, usahakan tidak meng- ABAI-kan Tuntunan Agama (Kitab Suci) yang dalam pengakuan anda mengatakan anda ber-iman padanya, termasuk dalam hal Menentukan Pemimpin (rumah_tangga, kabupaten, kotamadya, provinsi, negara).
>>> fadiel @ 17 Muharrom 1438 H / 18 Oktober 2016 M <<<
- - - - - - - - - - - - - -
#MemilihPemimpinSeimanAdalahHakAzasiManusia
#MelaksanakanIsiKitabSuciAdalahPengamalanUUD1945Pasal29
#MenganjurkanMemilihPemimpinSeimanBagiYangSeagamaBukanKebencianSARA
#MengatakanAyatKitabSuciBisaDipakaiUntukMembohongiDanMembodohiAdalahEkspresiKebencianSARA
Label:
Iqro 35
16 Desember 2010
Makna AL HIKMAH “Yang Terbatasi” Penafsiran

Al Hikmah adalah suatu karunia besar yang diberikan ALLAH SWT kepada Makhluk-NYA yang DIA pilih. Namun ketika al HIKMAH dimaknakan SEBATAS apa yang dikatakan Hadits (sunnah) Shohih dari Nabi Muhammad SAW yang termaktub dalam beberapa kitab yang baru dikumpulkan berdasarkan hafalan (sekira dua ratus tahun setelah Beliau wafat) belaka, maka seolah tertutuplah Pintu Ijtihad dan pendalaman serta perluasan pemahaman akan Ilmu ALLAH yang termaktub dalam Al Qur’an dan pada Alam Raya. Lalu pada tataran yang ekstrem, menjadi STATIS-lah pemahaman agama seolah kebenaran pemahaman tentang Al Islam hanya ada pada Para Ulama Abad 2-8 Hijriah belaka. Pada akhirnya, beberapa kelompok yang merasa penafsirannya tentang Al Islam (Al Qur’an) yang PALING benar, dengan mudah men-cap sesat menyesatkan pada saudara-saudara muslim-nya dikelompok aliran pemahaman yang lain, yang notabene masih memiliki “rukun” syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji (Rukun Islam) yang sama.
Padahal ALLAH SWT sendiri menjabarkan di banyak ayat Al Qur’an bahwa al HIKMAH, yakni kemampuan memahami Dien Al Islam (dalam konteks ketetapan yakni Kitab-kitab ALLAH), telah DIA berikan pada Anbiya, Auliya, Sholihin, Shiddiqiin, dan Muttaqiin terdahulu sebelum diutusnya Muhammad ibnu Abdullah sebagai Khotamun Nabiyyin. Lalu telah DIA berikan juga pada Nabi Muhammad SAW. Dan akan terus DIA berikan pula kepada Auliya, Sholihin, Shiddiqiin, Mukminin, dan Muttaqiin hingga sesaat menjelang kiamat, agar ummat dapat memahami pesan-pesan tersurat dan tersirat dari ayat-ayat Al Qur’an, yang jelas dan menjelaskan serta yang lurus dan meluruskan itu.
Bila kita tidak yakin dengan pernyataan diatas, maka carilah di dalam Kitabullah Al Qur’an, dengan Kata Kunci alias Key Word : HIKMAH (misal dengan Al Quran Digital seperti Quranic Explorer), lalu akan didapat sekira 30 buah kata sehubungan dengan al hikmah, dalam konteks dahulu, kini, dan kemudian.
Selamat Men-tadabbur-i Al Qur’an, semoga ALLAH SWT senantiasa membimbing kita ke Shiroot Al Mustaqiim-NYA dalam sisa jatah umur kita yang terus semakin sedikit ini, ...amin.
[QS Ali Imraan : 81] “Dan (ingatlah), ketika ALLAH mengambil perjanjian dari Para Nabi : ‘Sungguh, apa saja yang AKU berikan kepada-mu (kalian) berupa Kitab dan HIKMAH kemudian datang kepada-mu (kalian) seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada pada-mu (kalian), niscaya kamu (kalian) akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya’. ALLAH berfirman : ‘Apakah kamu (kalian) mengakui dan menerima perjanjian-KU terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab : ‘Kami mengakui’. ALLAH berfirman : ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan AKU menjadi saksi (pula) bersama kamu (kalian)’.”
[QS Asy Syuaraa` : 83] “(Ibrahim ber-doa): Ya TUHAN-ku, berikanlah kepadaku HIKMAH dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.”
[QS Al Qashash : 14] “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, KAMI berikan kepadanya HIKMAH dan ilmu. Dan demikianlah KAMI memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Wallahu A’lam.
Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli
10 Muharrom 1432 H
Daftar Pustaka :
- Quranic Explorer on Facebook.
- Al Qur’an Tafsir Per Kata, Drs. Ahmad Hatta, MA; Pustaka Maghfirah.
- Buku “Sesat Menyesatkan”, karya Syekh Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan.
Label:
Iqro 34
28 Oktober 2010
Nasi Goreng Sumpah Pemuda

Aneh... lho kok ada ya tukang nasi goreng mo pake nama racikannya yang dijual dengan nama yang aneh begitu, dalam arti, formal banget. Mungkin inilah yang akan terucap, bila judul diatas dijadikan Brosur Iklan yang dipasang di halaman utama sebuah Tabloid Kuliner.
Tetapi saya tidak sedang ingin membahas persoalan nama, karena kata Wiliam Shakespeare yang terkenal itu (entahlah, saya pun tidak kenal-kenal amat siapa dia) dia katakan, apalah arti sebuah nama?! Lho, kok dia bisa bahasa indonesia ya.... pikir saya sambil berpikir keras sekeras kepala para pemimpin negeri kalau dikasih masukan, yakni : jika si WS itu berkata demikian, kenapa teman-temannya ga panggil dia dengan sebutan; anjing, babi, monyet, maling, rampok, dan lain sebagainya yang jelek-jelek, hehehe... Tetapi bagi saya, mengikuti pendapat yang dikatakan dari Idola Saya, Muhammad Ibnu Abdillah ibnu Abdul Muthalib, bahwa Nama bagi seorang anak manusia haruslah yang baik, karena nama adalah bagian dari do’a orang tua kepada anaknya.
Kembali ke topik Nasi Goreng, sebenarnya ini adalah kisah nyata yang saya alami diawal-awal waktu setelah berhasil “mengubah status” dari waspada menjadi awas, alias dari status jejaka menjadi beristri. Begini kisahnya....
Suatu pagi dihari libur, seinget saya sih masih masa-masa yang kalo kata orang “isterinya pa’le” yang serumpun dengan PM Inggris, yakni Honey Moon, waktu masih suasana pagi, saya meminta (tentu dengan permohonan kata lembut penuh sayang, maklum masih baru dapet “SIM” dari Pak Penghulu) untuk dibuatkan Nasi Goreng. Kemudian sang isteri yang saya “jemput” dari Paris (-Van Java) itu membuatkannya lah. Sementara saya mengerjakan sesuatu yang dapat saya kerjakan, yang pasti bukan asyik nyantai nonton televisi lah.
Dan setelah Sang Permaisuri selesai membuatkannya dengan tangan lembutnya itu, sendiri, saya dipanggilnya untuk mencicipi. Dan BETAPA TERKEJUTnya saya. Ternyata nasi goreng yang saya minta dibuatkan itu, berwarna kuning dan beraroma jamu. Tau gak, ternyata Nasi Goreng itu salah satu bumbu utamanya adalah KUNYIT dan KENCUR.
Bayangkan.... sebagai makhluk yang dilahirkan di sekitar Kebon Jeruk, dan tumbuh besar sekitar kedoya, bonjer, pesing, dan Rawa Belong, mana pernah saya ketemu nasi goreng dari SPESIES BARU yang demikian (kalo kata guru biologi SMA 65, ibu teguh apa ya nama Beliau). Karena biasanya yang namanya Nasi Goreng, selain bawang merah, maka ada cabe dan aroma TERASI yang kental yang biasa dimasakkan oleh Mother. Benar-benar sebuah pengalaman memakan nasi goreng yang SERU, hehehe.... dan sebagai tanda sayang, maka nasi goreng itu, habislah.... (atau emang dasar kemaruk ye karena mungkin beberapa jam sebelumnya habis kerja keras : nguras bak mandi, misalnya).
Tapi seperti itulah. Kekuatan untuk bersama dan memaklumi serta menerima perbedaan, akan menghasilkan sinergi yang baik dan output yang menakjubkan. Sekitar sepuluh hampir sebelas bulan kemudian, dari hasil buah kerjasama yang halal lagi baik serta bergairah kami,lahirlah seorang putra sebagai Titipan-NYA pada kami. Alhamdulillah....
Akhirnya daku terpikir; bukankah perbedaan suku dan atau ras adalah dikatakan TUHAN untuk kita saling mengenal (ta'aruf)? Dan bukankah dalam sejarah perkembangan ISLAM, sering dikatakan oleh Para Pengkaji Shirah Nabawiyyah, bahwa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah), salah satu kunci persatuan yang dibangun Beliau adalah, Pria Muhajirin (pendatang) menikahi Wanita Anshor (pribumi) dan Pria Anshor juga menikahi Wanita Muhajirin yang telah ber-Islam?
Lantas bagaimana dengan kita dan atau orang tua kita? Masihkan mensyaratkan dalam mencari Pasangan Hidup HARUS WAJIB yang se-suku?
Bila itu masih terjadi dalam pola pikir kita, maka BERTOBAT -lah dari faham Rasialis Tersebut!!! Atau kita memang memilih untuk seperti yang dikatakan Pengusung Teori Evolusi, bahwa Manusia berasal dari Primata (kera) yang notabene cenderung rasialis dan senang mencibir dari ketinggian.
Tetapi ini tidak berarti kita tidak boleh mencari pasangan hidup yang satu suku/etnis/sekampung, melainkan sebatas, jangan sampai kita memandang lebih rendah derajat orang lain, semata karena ukuran-ukuran duniawi yang telah ditakdirkan TUHAN, termasuk dalam hal perbedaan suku/ras/etnis.
Wallahu A’lam Bisshowaab....
SELAMAT MEMAKNAI HARI SUMPAH PEMUDA
28 OKTOBER 2010
Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli
Label:
Iqro 33
Langganan:
Komentar (Atom)

