Dalam hitungan waktu yang tidak berapa lama lagi kita akan segera meninggalkan Tahun 2008 Masehi menuju Tahun Baru 2009 Masehi, jika Tuhan masih memberi kita pinjaman umur tentunya. Dan itu berarti kita harus menilai dan menghitung target-target apa yang telah dicapai ditahun 2008 dan target-target apa yang masih harus diraih bahkan ditambah untuk tahun 2009.
Bagi yang “gemar berpesta” tentunya telah mempersiapkan acara dan pesta apa yang akan digelar dimalam pergantian tahun tersebut.
Sementara itu ada sedikit kelompok ataupun pribadi yang akan mengisi malam pergantian tahun tersebut dengan berzikir dan bertafakur seraya bermuhasabah di tempat-tempat ibadah masing-masing.
Namun yang pasti, pergantian tahun dari 2008 ke 2009 adalah sama dengan pergantian hari dari Ahad ke Senin, lalu ke Selasa, hingga Sabtu dan seterusnya berputar kembali. Dan yang pasti, jatah pinjaman umur kita akan semakin terkurangi. Dan juga yang pasti, ditangan kita sendiri pula apakah kebaikan ataukah kesalahan yang akan kita perbanyak dimasa depan. Sementara sang waktu akan terus berganti hingga saat pergantian abadi tiba.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharrom 1430 Hijriah
Selamat Tahun Baru ...... 1 Januari 2009 Masehi
Semoga ALLAH swt Meridhoi Kita Untuk Hidup Lebih Baik Dari Sebelumnya.
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
26 Desember 2008
09 Desember 2008
Dikotomi Menyesatkan Jilid 1 : ILMU
Anda pernah mendengar ceramah kyai/ustadz/ulama/habib yang berbicara pentingnya untuk belajar ILMU AGAMA ? Kalau saya sering sekali, bahkan sedari saya SD. Lantas, apa saja yang oleh ustadz tersebut dianggap ilmu agama ? Jawabannya pasti ilmu fiqih, ilmu tajwid, ilmu qiroah, ilmu nahwu syorof, dan segala yang menyangkut ibadah ritual atau akhirat.
Lantas bagaimana dengan fisika, biologi, matematika, farmasi, atau tata negara ? Yang sering kita dengar maka para ustadz akan menyebut ilmu-ilmu tersebut sebagai ILMU UMUM, itu artinya tidak termasuk ilmu agama.
Inilah kesalahan besar, membuat dikotomi ilmu menjadi Ilmu Agama dan Ilmu Umum. Akibat kesalahan pola pikir dan lalu disampaikan ke ummat, maka jadilah ummat islam tertinggal jauh, jauh sekali dalam hampir segala bidang kehidupan.
Para ustadz/kyai/ulama yang membuat dikotomi ilmu (atau memahami ilmu sebagai dikotomi) itu pasti rajin membaca Al Qur’an, dan banyak yang mengerti terjemahnya. Cuma herannya mereka seperti tidak pernah tahu, bahwa ALLAH melalui Al Qur’an banyak menjelaskan fenomena keilmuan termasuk soal fisika, matematika, biologi, pemerintahan, sosial, dan lain sebagainya. Bukankah itu artinya bahwa ilmu-ilmu yang selama ini dianggap sebagi ilmu umum sebenarnya juga adalah ilmu agama ? Menjadi satu kesatuan ? Tanpa Dikotomi ?
Bayangkan, jika banyak ummat islam yang pandai matematika, biologi, fisika, kimia, sosiologi, dan lain sebagainya, maka pesawat terbang, satelite, pesawat antariksa, mesin-mesin pertanian, obat-obatan, alat-alat kesehatan, hingga persenjataan mutakhir serta media informasi dan komunikasi akan banyak dihasilkan oleh umat islam. Dan itu akan punya kontribusi besar bagi ibadah-ibadah ritual ummat islam.
Bukankah untuk berhaji dengan nyaman, kita butuh pesawat terbang, kapal laut, dan mobil untuk alat transportasinya ?
Bukankah televisi, radio, dan telepon serta media internet sangat besar perannya dalam menyebarkan informasi mengenai ajaran islam ?
Bukankah alat-alat pertanian dan alat-alat kedokteran modern besar pengaruhnya bagi perbaikan kondisi kehidupan ummat islam ?
Bukankah jika mengusai persenjataan dan kendaraan tempur maka ummat islam akan dihormati dan dihargai oleh ummat-ummat lainnya ?
Sayang, segala tehnologi diatas tidak dikuasai umat islam, akibat para ustadz/kyai/ulama hanya menggiring umat untuk kehidupan akhirat saja, dan tidak merasa penting akan kebaikan hidup dunia. Dan akibatnya seperti sekarang ini, ummat islam meskipun besar jumlahnya namun sedikit kontribusinya bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi manusia.
Umat islam hanya sebagai pengguna saja, pengguna pesawat terbang, pengguna jasa satelit, pengguna telepon seluler, pengguna televisi dan radio, pengguna mobil dan motor, pengguna mesin-mesin kedokteran, hanya sebatas pengguna.
Jika Rosulullah Muhammad saw masih hidup, tentu Beliau akan “sedih” melihat “ketidakmampuan” ummatnya kini. Mereka seperti “hanya” sibuk bertentangan masalah penentuan tanggal 1 Romadhon dan 1 Syawal, masalah doa qunut, masalah hukum tahlilan, masalah cukur kumis pelihara jenggot, masalah tambah isteri, masalah jumlah rakaat tarawih, masalah berbaju gamis atau baju koko dengan celana gantung diatas mata kaki, dan masalah remeh temeh lainnya.
Sampai kapan Para ustadz/kyai/ulama/habib menyadari bahwa kebaikan (kesuksesan) hidup di dunia akan memudahkan kita memperoleh kebaikan (kesuksesan) hidup di akhirat ?
Sampai kapan Dikotomi Menyesatkan tantang ilmu ini akan dipertahankan ?
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
Lantas bagaimana dengan fisika, biologi, matematika, farmasi, atau tata negara ? Yang sering kita dengar maka para ustadz akan menyebut ilmu-ilmu tersebut sebagai ILMU UMUM, itu artinya tidak termasuk ilmu agama.
Inilah kesalahan besar, membuat dikotomi ilmu menjadi Ilmu Agama dan Ilmu Umum. Akibat kesalahan pola pikir dan lalu disampaikan ke ummat, maka jadilah ummat islam tertinggal jauh, jauh sekali dalam hampir segala bidang kehidupan.
Para ustadz/kyai/ulama yang membuat dikotomi ilmu (atau memahami ilmu sebagai dikotomi) itu pasti rajin membaca Al Qur’an, dan banyak yang mengerti terjemahnya. Cuma herannya mereka seperti tidak pernah tahu, bahwa ALLAH melalui Al Qur’an banyak menjelaskan fenomena keilmuan termasuk soal fisika, matematika, biologi, pemerintahan, sosial, dan lain sebagainya. Bukankah itu artinya bahwa ilmu-ilmu yang selama ini dianggap sebagi ilmu umum sebenarnya juga adalah ilmu agama ? Menjadi satu kesatuan ? Tanpa Dikotomi ?
Bayangkan, jika banyak ummat islam yang pandai matematika, biologi, fisika, kimia, sosiologi, dan lain sebagainya, maka pesawat terbang, satelite, pesawat antariksa, mesin-mesin pertanian, obat-obatan, alat-alat kesehatan, hingga persenjataan mutakhir serta media informasi dan komunikasi akan banyak dihasilkan oleh umat islam. Dan itu akan punya kontribusi besar bagi ibadah-ibadah ritual ummat islam.
Bukankah untuk berhaji dengan nyaman, kita butuh pesawat terbang, kapal laut, dan mobil untuk alat transportasinya ?
Bukankah televisi, radio, dan telepon serta media internet sangat besar perannya dalam menyebarkan informasi mengenai ajaran islam ?
Bukankah alat-alat pertanian dan alat-alat kedokteran modern besar pengaruhnya bagi perbaikan kondisi kehidupan ummat islam ?
Bukankah jika mengusai persenjataan dan kendaraan tempur maka ummat islam akan dihormati dan dihargai oleh ummat-ummat lainnya ?
Sayang, segala tehnologi diatas tidak dikuasai umat islam, akibat para ustadz/kyai/ulama hanya menggiring umat untuk kehidupan akhirat saja, dan tidak merasa penting akan kebaikan hidup dunia. Dan akibatnya seperti sekarang ini, ummat islam meskipun besar jumlahnya namun sedikit kontribusinya bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi manusia.
Umat islam hanya sebagai pengguna saja, pengguna pesawat terbang, pengguna jasa satelit, pengguna telepon seluler, pengguna televisi dan radio, pengguna mobil dan motor, pengguna mesin-mesin kedokteran, hanya sebatas pengguna.
Jika Rosulullah Muhammad saw masih hidup, tentu Beliau akan “sedih” melihat “ketidakmampuan” ummatnya kini. Mereka seperti “hanya” sibuk bertentangan masalah penentuan tanggal 1 Romadhon dan 1 Syawal, masalah doa qunut, masalah hukum tahlilan, masalah cukur kumis pelihara jenggot, masalah tambah isteri, masalah jumlah rakaat tarawih, masalah berbaju gamis atau baju koko dengan celana gantung diatas mata kaki, dan masalah remeh temeh lainnya.
Sampai kapan Para ustadz/kyai/ulama/habib menyadari bahwa kebaikan (kesuksesan) hidup di dunia akan memudahkan kita memperoleh kebaikan (kesuksesan) hidup di akhirat ?
Sampai kapan Dikotomi Menyesatkan tantang ilmu ini akan dipertahankan ?
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
Label:
Iqro 8
"Persetan Fatwa Merokok ?!"
Jujur, saya adalah mantan perokok yang telah berhenti total sejak tahun 2000. Berhenti dengan alasan sudah bosan mencicipi rokok sejak tahun 1986. Dan selama 14 tahun merokok pasti tidak sedikit asap beracun rokok telah memenuhi rongga paru-paru saya, demi suatu alasan pertemanan dan gagah-gagahan.
Sekarang soal merokok menjadi heboh di Indonesia, lantaran rencana Majlis Ulama Indonesia untuk Membuat Fatwa Haram Merokok, banyak ditentang keras (-lucunya-) oleh banyak kyai/ulama/ustadz/Habib yang mungkin sebagian besarnya sudah kadung ketergantungan merokok, dan mungkin banyak diantara para ustadz/kyai/habib sudah terbiasa asyik merokok, bahkan di lingkungan masjid dan majlis taklim.
Saya pikir, pesan peringatan pemerintah tentang bahaya merokok, harusnya bisa menjadi bahan pemikiran oleh kita, mengapa pesan peringatan itu wajib dicantumkan dalam setiap kemasan rokok. Pasti ada alasan rasional dan ilmiah.
Bayangkan, jika dari 220 juta penduduk Indonesia ada 1 juta perokok yang sehari menghabiskan Rp 4000,- utk merokok berarti dalam sehari berjumlah Rp 4 Milyar. Dalam sebulan menjadi Rp 120 Milyar, dan setahun Rp 1.440.000.000.000,- (Satu trilyun empat ratus empat puluh milyar Rupiah). Angka yang sangat fantastis. Apalagi jika dikumulatif hingga 10 tahun, maha fantastis sekali. Andai uang sejumlah tersebut digunakan untuk Dana Sosial Pendidikan dan Kesehatan, dan bukan untuk membuat 2 orang produsen rokok menjadi Top 5 Besar Orang Terkaya di Indonesia.
Lagi pula, selama 14 jam sejak imsak hingga maghrib dibulan romadhon para kyai/habib dan ummat islam di Indonesia yang perokok nyatanya tetap bisa hidup, bekerja, dan menjalin pertemanan tanpa harus bergantung pada efek merokok.
Bukankah selain syarat HALAL ada juga syarat TOYYIB yang menjadi satu kesatuan yang digariskan ALLAH swt dalam Al Qur'an ?
Dan bukankah kita diperintahkan agar hanya bergantung pada DIA Yang Maha Kuasa ?
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
Sekarang soal merokok menjadi heboh di Indonesia, lantaran rencana Majlis Ulama Indonesia untuk Membuat Fatwa Haram Merokok, banyak ditentang keras (-lucunya-) oleh banyak kyai/ulama/ustadz/Habib yang mungkin sebagian besarnya sudah kadung ketergantungan merokok, dan mungkin banyak diantara para ustadz/kyai/habib sudah terbiasa asyik merokok, bahkan di lingkungan masjid dan majlis taklim.
Saya pikir, pesan peringatan pemerintah tentang bahaya merokok, harusnya bisa menjadi bahan pemikiran oleh kita, mengapa pesan peringatan itu wajib dicantumkan dalam setiap kemasan rokok. Pasti ada alasan rasional dan ilmiah.
Bayangkan, jika dari 220 juta penduduk Indonesia ada 1 juta perokok yang sehari menghabiskan Rp 4000,- utk merokok berarti dalam sehari berjumlah Rp 4 Milyar. Dalam sebulan menjadi Rp 120 Milyar, dan setahun Rp 1.440.000.000.000,- (Satu trilyun empat ratus empat puluh milyar Rupiah). Angka yang sangat fantastis. Apalagi jika dikumulatif hingga 10 tahun, maha fantastis sekali. Andai uang sejumlah tersebut digunakan untuk Dana Sosial Pendidikan dan Kesehatan, dan bukan untuk membuat 2 orang produsen rokok menjadi Top 5 Besar Orang Terkaya di Indonesia.
Lagi pula, selama 14 jam sejak imsak hingga maghrib dibulan romadhon para kyai/habib dan ummat islam di Indonesia yang perokok nyatanya tetap bisa hidup, bekerja, dan menjalin pertemanan tanpa harus bergantung pada efek merokok.
Bukankah selain syarat HALAL ada juga syarat TOYYIB yang menjadi satu kesatuan yang digariskan ALLAH swt dalam Al Qur'an ?
Dan bukankah kita diperintahkan agar hanya bergantung pada DIA Yang Maha Kuasa ?
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
Label:
Iqro 7
04 Desember 2008
Mungkinkah Bikers Di Jakarta Bisa Santun ?
Saya pikir, semenjak euforia penurunan rezim orde baru tahun 1998, banyak hal yang menjadi kurang terurus, entah karena mengapa. Misalkan saja soal tertib berlalu lintas, khususnya di Jakarta, khususnya lagi oleh pengendara sepeda motor.
Rasanya “srabat-srobot” berlalu lintas oleh pengendara sepeda motor makin menakutkan. Saya sendiri menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi utama untuk bekerja dan urusan lainnya. Tapi saya sendiri sering merasa tidak nyaman dengan pengendara sepeda motor di Jakarta, yang rasanya “sangat bangga” jika bisa melanggar peraturan lalu lintas. Zig zag seenaknya, menerobos lampu merah, saling salip, knalpot bising, klakson yang beruntun jika jalan sedikit melambat, dan hobi “memakan jatah” para pejalan kaki di trotoar dan zebra cross. Jika ada pengendara sepeda motor lain yang berusaha tertib di pemberhentian lampu merah, maka yang dibelakang akan segera “melantunkan simfony” klakson yang memekakkan telinga, bahkan sering ditambah dengan hujatan kepada pengendara sepeda motor yang tertib.
Padahal saya yakin, para pengendara sepeda motor banyak yang sudah tamat SMA/SMU. Tapi megapa kelakuan mereka semakin menjauhkan dari kesan sebagai manusia sekolahan ?
Lalu kemana para petugas penegak disiplin berlalu lintas di Jakarta ?
Apakah ini juga kesalahan para kyai/rohaniawan yang hanya menekankan bahwa kepatuhan hukum hanya untuk ibadah berbonus surga di akhirat saja, sementara hukum negara tidak masuk dalam kebaikan beragama ?
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
Rasanya “srabat-srobot” berlalu lintas oleh pengendara sepeda motor makin menakutkan. Saya sendiri menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi utama untuk bekerja dan urusan lainnya. Tapi saya sendiri sering merasa tidak nyaman dengan pengendara sepeda motor di Jakarta, yang rasanya “sangat bangga” jika bisa melanggar peraturan lalu lintas. Zig zag seenaknya, menerobos lampu merah, saling salip, knalpot bising, klakson yang beruntun jika jalan sedikit melambat, dan hobi “memakan jatah” para pejalan kaki di trotoar dan zebra cross. Jika ada pengendara sepeda motor lain yang berusaha tertib di pemberhentian lampu merah, maka yang dibelakang akan segera “melantunkan simfony” klakson yang memekakkan telinga, bahkan sering ditambah dengan hujatan kepada pengendara sepeda motor yang tertib.
Padahal saya yakin, para pengendara sepeda motor banyak yang sudah tamat SMA/SMU. Tapi megapa kelakuan mereka semakin menjauhkan dari kesan sebagai manusia sekolahan ?
Lalu kemana para petugas penegak disiplin berlalu lintas di Jakarta ?
Apakah ini juga kesalahan para kyai/rohaniawan yang hanya menekankan bahwa kepatuhan hukum hanya untuk ibadah berbonus surga di akhirat saja, sementara hukum negara tidak masuk dalam kebaikan beragama ?
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
Label:
Iqro 6
Rasialis Itu Primata ?!
Untuk pertama kalinya, seorang non bule alias campuran negro, bisa terpilih menjadi presiden negara amerika serikat yang sangat mengagungkan demokrasi dan sebagian besar penduduknya berkulit putih. Dan sesumbar amerika bahwa mereka menjunjung demokrasi terbukti bukan isapan jempol, khususnya dalam hal ini ya Barrack Hussein Obama Jr itu.
Sedang di Indonesia yang katanya juga negara yang menjunjung demokrasi, semoga tidak ada lagi jargon bahwa Presiden Indonesia harus Berdarah Jawa dan Wakilnya boleh dari Non Jawa. Dan Ini juga semoga berlaku bagi yang mencari pasangan hidup, menantu, karyawan, atau juga persahabatan untuk tidak lagi melihat asal usul suku/ras/etnis seseorang.
Ingat, bahwa semua manusia bumi berasal dari satu leluhur, yakni Nabi Adam. Jika masih ada yang mempermasalahkan asal usul suku/ras/etnis, patut diragukan apakah mereka keturunan Nabi Adam. Atau jangan-jangan mereka adalah keturunan dari apa yang dikatakan oleh teori Evolusi milik Darwin cs.
Naudzubillah.
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
Sedang di Indonesia yang katanya juga negara yang menjunjung demokrasi, semoga tidak ada lagi jargon bahwa Presiden Indonesia harus Berdarah Jawa dan Wakilnya boleh dari Non Jawa. Dan Ini juga semoga berlaku bagi yang mencari pasangan hidup, menantu, karyawan, atau juga persahabatan untuk tidak lagi melihat asal usul suku/ras/etnis seseorang.
Ingat, bahwa semua manusia bumi berasal dari satu leluhur, yakni Nabi Adam. Jika masih ada yang mempermasalahkan asal usul suku/ras/etnis, patut diragukan apakah mereka keturunan Nabi Adam. Atau jangan-jangan mereka adalah keturunan dari apa yang dikatakan oleh teori Evolusi milik Darwin cs.
Naudzubillah.
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
Label:
Iqro 5
ASI versus ASPI
Seingat saya, ditahun 1970an – 1980an, kaum ibu lebih banyak memberikan kepada anaknya yang masih bayi ASI (Air Susu Ibu) dari pada memberikan ASPI (Air Susu saPI).
Seiring dengan makin banyaknya wanita yang bersekolah hingga perguruan tinggi, makin banyak pula wanita yang bekerja di kantor / perusahaan yang sebelumnya lebih didominasi kaum lelaki, utamanya di perkotaan. Dampaknya ketika para wanita karir itu menikah dan menjadi ibu, dengan alasan kesibukan karirnya, maka para ibu di tahun 2000an lebih memilih untuk memberikan Air Susu saPI (biar keren disebut Susu Formula) kepada bayi-bayi mereka dari pada memberikan ASI. Ditambah lagi gencarnya produsen susu formula yang mengiklankan produknya di TV-TV swasta yang seolah menggiring opini para ibu untuk lebih mempercayai bahwa susu formula yang dari sapi itu lebih baik dari ASI yang dari manusia, ibu para bayi.
Pertanyaannya, mengapa ibu-ibu di tahun 2000an yang tingkat pendidikannya jauh lebih baik dibanding ibu-ibu d tahun 1970an – 1980an, lebih mengutamakan memberi Susu Formula (baca : Air Susu saPI) sebagai makanan utama bagi bayi-bayi mereka dibandingkan dengan memberi ASI yang –maaf- dari payudaranya sendiri ?
Bukankan Tuhan dalam kitab suci menganjurkan supaya para ibu memberikan ASI kepada bayinya hingga mereka berusia 2 tahun ?
Atau apakah dalam hal memberi ASI para ibu masa kini “lebih sayang dan peduli” kepada suami mereka dibandingkan bayi mereka ?
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
Seiring dengan makin banyaknya wanita yang bersekolah hingga perguruan tinggi, makin banyak pula wanita yang bekerja di kantor / perusahaan yang sebelumnya lebih didominasi kaum lelaki, utamanya di perkotaan. Dampaknya ketika para wanita karir itu menikah dan menjadi ibu, dengan alasan kesibukan karirnya, maka para ibu di tahun 2000an lebih memilih untuk memberikan Air Susu saPI (biar keren disebut Susu Formula) kepada bayi-bayi mereka dari pada memberikan ASI. Ditambah lagi gencarnya produsen susu formula yang mengiklankan produknya di TV-TV swasta yang seolah menggiring opini para ibu untuk lebih mempercayai bahwa susu formula yang dari sapi itu lebih baik dari ASI yang dari manusia, ibu para bayi.
Pertanyaannya, mengapa ibu-ibu di tahun 2000an yang tingkat pendidikannya jauh lebih baik dibanding ibu-ibu d tahun 1970an – 1980an, lebih mengutamakan memberi Susu Formula (baca : Air Susu saPI) sebagai makanan utama bagi bayi-bayi mereka dibandingkan dengan memberi ASI yang –maaf- dari payudaranya sendiri ?
Bukankan Tuhan dalam kitab suci menganjurkan supaya para ibu memberikan ASI kepada bayinya hingga mereka berusia 2 tahun ?
Atau apakah dalam hal memberi ASI para ibu masa kini “lebih sayang dan peduli” kepada suami mereka dibandingkan bayi mereka ?
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
Label:
Iqro 4
Langganan:
Komentar (Atom)
