Namun jika kita telusuri di dalam Al Qur’an yang merupakan Sumber Hukum dan Pedoman Hidup bagi Manusia, khususnya Ummat Islam, ternyata tidak dikenal istilah “Idul Fitri/Iid al Fitri juga Idul Adha”, apalagi cara mengisi kedua hari tersebut seperti di Indonesia.
Istilah “Iid” yang tercantum dalam Al Qur’an hanyalah termuat dalam QS Al Maidah [5] ayat 112 – 115, yang menerangkan Permohonan Isa Al Masih Anak Maryam kepada ALLAH SWT, Tuhannya, agar menurunkan Hidangan Besar Dari Angkasa untuk jadi “Iid” atau “Ma-Iid-ah”. Dan makna “Iid” dalam ayat ini dimaksudkan sebagai “Pesta Makan Besar” bersama-sama sebagai Tanda Kemukjizatan Nabi Isa Al Masih AS atas izin ALLAH menuruti permintaan pengikut dan calon pengikutnya.Entah siapa yang pertama memulai menyebut tanggal 1 Syawal sebagai Idul Fitri dan tanggal 10 Zulhijjah sebagai Idul Adha. Namun yang pasti, penempatan kata “Iid” yang bermakna Pesta Makan Besar, telah menjadikan kebanyakan Umat Islam di Indonesia mengisi tanggal 1 Syawal dengan acara Pesta Makan Besar Bersama Keluarga dan Tetangga yang pada akhirnya mengarah pada perilaku ‘Mubazir, Boros, Riya’ yang tentunya sama sekali tidak dicontohkan Nabi Muhammad SAW, bahkan perilaku tersebut amat dibenci Beliau. Karena yang Beliau ajarkan dan contohkan adalah “Hanya makan ketika lapar, segera berhenti makan ketika mulai kenyang, dan sederhana dalam berpakaian”.
Dan dalam “merayakan” kedua hari tersebut (1 Syawal & 10 Zulhijjah) Nabi Muhammad SAW mengisinya dengan memperbanyak zikir “Takbir – Tauhid/Tahlil – Tahmid” secara khidmat tanpa mengganggu ketenangan dan kenyamanan lingkungan, dan Beliau sempurnakan dengan berpakaian terbaik (bukan baru) lalu melakukan sholat sunnah berjamaah 2 rokaat ditambah khutbah penutup serta doa-doa, kemudian kembali ke rumah untuk bersilaturahim dalam keluarga dalam kesederhanaan dan penuh rasa empati pada duafa.Lantas, Tradisi Kemeriahaan di 1 Syawal yang kita anggap Idul Fitri di Indonesia, ajaran siapakah ?!
Fadiel Aburafa
Meniti Jalan Iqro dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli
(Sumber Bacaan : buku “Al Qur’an Tentang Sholat, Puasa, dan Waktu” karya Nazwar Syamsu.)
