22 Desember 2009

Selamat Hari Ibu

Ibu Rumah Tangga... profesi tanpa gaji dan minim prestise... tetapi merupakan Ladang Yang Sangat Subur untuk menanam beragam bibit pahala untuk dipanen di akhirat kelak.

Adalah Khadijah binti Khuwailid, Sang Wanita Konglomerat, dengan ikhlas dan bulat tekad memilih profesi itu sepenuhnya, demi menunjang Sang Suami Tercinta, Baginda Muhammad SAW, dalam menjalankan Amanat Sebagai Rosul ALLAH.

Juga ada Maryam Ibu Nabi Isa... Ada Hajar Ibu Nabi Ismail... Ada Aminah Ibu Nabi Muhammad SAW...

Bahkan Ada Peringatan Hari Ibu...

Bila kesuksesan seseorang, termasuk wanita, diukur berdasar Sesuatu Yang Terukur Dengan Angka, apakah itu besaran gaji atau harta pribadi, betapa tidak adil-nya kita kepada Para Wanita yang memilih berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga.

Maka Ditembangkanlah Kalimat Yang Teramat Pantas : Surga Itu Ditelapak Kaki Ibu.

Semoga ALLAH memuliakan Almarhumah Ibu-ku, Ibu dari Anak-ku, dan Semua Wanita Yang Ikhlas Menjadi Ibu dengan segala keterbatasannya sebagai manusia.

Selamat Hari Ibu kepada Semua Ibu di- berbagai profesi apapun yang dipilih.

Sudahkah kita hormati Ibu kita sendiri, melebihi hormat dan patuh kita pada Atasan, Pemegang Kekuasaan, bahkan Guru Ngaji Kita sekalipun ?!

Al Jannatu Tahta Akdamil Ummahaat.


[Fadiel Aburafa, 22 Desember 2009, Memperingati Hari Ibu]



Meski kurang dari 13 tahun kita bersama, dan sudah 23 tahun kau pulang kedalam Rahmat-NYA, Wajah & Kebaikanmu masih tergambar jelas dihati dan pikiranku, Ibu. Belum semua kebaikan yang kau pesankan mampu aku jalani, Ibu. Tapi kini anakmu telah mencoba tuk memulainya lagi, Ibu. Tidurlah dengan nyaman diharibaan-NYA, Ibu. Do’a-kan aku dari sana agar aku bisa menemuimu di surga-NYA, Ibu. Melalui pintu surga yang ada ditelapak kakimu, Ibu.

12 Oktober 2009

Pesan Ilmiah Ritual Haji

“Dan maklumkanlah pada manusia dengan haji, mereka akan datang padamu berjalan kaki dan atas setiap kendaraan (penghubung), datang dari setiap pelosok tempat yang jauh.”
(Al Qur’an Surat 22 Ayat 27)

A. Ka’bah
Selain merupakan satu-satunya arah atau kiblat sholat bagi seluruh Ummat Islam di bumi (QS 2:144), Ka’bah juga tempat penting dalam dalam pelaksanaan ritual haji, khususnya saat pelaksanaan tawaf.
Ka’bah merupakan tempat dimana rumah yang pertama kali dibangun di bumi, sebagai tempat untuk menyembah ALLAH (QS 3:96).
Dari sudut geologi, kita dapat mengetahui secara nyata bahwa Mekkah, tempat dimana Ka’bah berada, dulunya merupakan tempat yang paling subur dan kutub putaran utara bumi sebelum terjadinya Topan Nuh, serta tempat paling aman dari berbagai bencana alam hingga kini.

Sebagai tempat yang paling subur, bisa dibuktikan dengan melimpahnya kandungan minyak dan mineral lain serta gas alam, yang merupakan cadangan terbesar di bumi.

Sebagai putaran kutub utara bumi, bisa dilihat pada pergeseran jarum kompas sekitar 10 derajat dari kutub utara sekarang. Kemudian jika ditarik garis 180 derajat dari Ka’bah, akan kita dapatkan Tuamoto, daerah cekungan dan laut terdalam dibelahan selatan bumi. Dan jika dilihat garis ekuator bumi dengan menempatkan Ka’bah sebagai kutub utara dan Tuamoto sebagai kutub selatan, maka jalur yang dilaluinya merupakan tempat yang banyak mengandung vulcano dan jalur gempa yang aktif, suatu temuan yang belum disadari ilmuwan barat.

Sebagai tempat paling aman di bumi, bisa dibuktikan dengan tidak pernah terjadi topan, gempa bumi tektonik dan vulkanik hingga kini, sejalan dengan do’a Nabi Ibrahim (QS 2:126)

B. Tawaf
Ritual haji berupa keliling Ka’bah dengan gerak arah yang menempatkan Ka’bah disebelah kiri berlawanan dengan arah jarum jam sebanyak 7 kali.
Petunjuk ilmiah tawaf adalah memberikan pertanda atas kenyataan yang berlaku pada bumi dan planet-planet lain yang berevolusi mengitari matahari sebagai pusat tata surya, juga berotasi pada sumbu masing-masing dari barat ke timur, sehingga terlihat matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Dan pada wujud mikro, setiap atom berputar pada sumbunya digerakkan oleh batang magnet yang berkutub utara dan selatan.

C. Sa’i
Merupakan kegiatan berkeliling bolak-balik antara Safa dan Marwa yang masih berada dalam lingkungan Masjidil Harom.
Petunjuk ilmiah dari pelaksanaan Sa’i yaitu bahwa setelah terjadinya Topan Nuh yang mengakibatkan bergesernya kutub utara bumi dari mekkah ke posisinya sekarang, sehingga gerak bumi dan planet-planet lain selama mengorbit keliling matahari melenggang ke utara dan ke selatan, hingga berlaku pergantian musim yaitu musim panas dan musim dingin.
Sementara itu dorongan bumi ke utara dan ke selatan menyebabkan kutub-kutub magnet bumi juga tidak tetap berada pada kutub putaran bumi, tetapi berubah-ubah disepanjang zaman. Kini kisaran perubahan itu diketahui orang sejauh 10 derajat atau maksimal 1.100 km. Hal ini dinyatakan ALLAH dalam QS 16:16, yang ditafsirkan bahwa kutub-kutub magnet bumi senantiasa membentuk segi tiga sama kaki dengan matahari yang semisalnya dijadikan sudut ketiga karena ia merupakan pusat tata surya kita.

D. Wukuf di Arafah
Istilah Arafaat tercantum dalam Al Qur’an pada Surat 2 Ayat 198, yang kalau ditafsirkan maksudnya ialah “Tempat dimana manusia saling mengenal”.
Petunjuk ilmiah wukuf adalah agar manusia mengenal nasib diri mereka yang menjadi keturunan manusia pertama di bumi yakni Adam, seorang lelaki terpilih, manusia cerdas, yang diangkat oleh ALLAH menjadi Nabi. Adam bersama isterinya bertempat tinggal di Mekkah, tempat dimana Ka’bah berdiri. Dan semua manusia di bumi merupakan anak cucu Adam, dan karenanya ALLAH menamakan manusia Bani Adam, seperti tercantum dalam QS 5:27, 7:26-27, 17:70, 36:60, dan di beberapa ayat lain. Hal ini juga tegas menyatakan bahwa manusia bumi bukanlah hasil evolusi primata sejenis kera seperti yang diyakini oleh Darwin dan pengikutnya.

Itulah sebagian kecil dari pesan-pesan ilmiah ritual Ibadah Haji atau Umroh. Dan ibadah yang merupakan Rukun Islam Ke-5 tersebut juga mengajarkan kita bahwa sebagai sesama keturunan Nabi Adam, maka sangat tidak pantas jika ada orang yang merasa lebih mulia dari orang lain karena misalnya ia adalah keturunan ningrat dari suatu kerajaan, keturunan Nabi Muhammad, dari ras tertentu, suku tertentu, ataupun karena besarnya harta dan kekuasaan. Semua manusia dimata ALLAH adalah sama, seperti keseragaman warna dan bentuk pakaian ihram, dan yang menjadi tolak ukur kemuliaan hanyalah kadar ketakwaan kepada-NYA.

Dan siapapun yang telah diperkenankan oleh ALLAH swt bisa melaksanakan Haji atau Umroh, maka hendaknya ia menjaga Kesempurnaan Agama Islam dalam setiap perbuatannya (menegakkan syahadat, sholat, puasa, zakat, serta “titel” Haji atau Hajah-nya) sekembalinya ke kediaman masing-masing agar menjadi Insan Kamil atau Insan Rahmatan Lil ‘Aalamin, yaitu manusia yang dirinya banyak memberi manfaat pada orang banyak, dan bukannya terus menjadi manusia yang banyak memanfaatkan orang banyak bagi kepentingan dirinya.
Wa ALLAH al a’lam bis showaab.

“Sungguh mereka telah mendustakan yang logis (haq) ketika sampai pada mereka, maka akan datang pada mereka kenyataan-kenyataan kabar tentang apa-apa yang mereka perolokkan “
(Al Qur’an Surat 6 Ayat 5)

Wallahu A’lam Bis Showab.

#Fadiel Aburafa#
Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli

Disadur Dari Buku Serial “Tauhid & Logika” Karya Nazwar Syamsu, Penerbit Ghalia Indonesia)

11 September 2009

KEMERIAHAN IDUL FITRI AJARAN SIAPA ?!

Di Indonesia (bukan di Mekkah, Arab Saudi), biasanya setelah selesai Puasa Romadhon maka pada tanggal 1 Syawal kerap dilakukan “perayaan” yang disebut “Iid al Fitri” (juga pada tanggal 10 Zulhijjah ada “Iid al Adha”).

Namun jika kita telusuri di dalam Al Qur’an yang merupakan Sumber Hukum dan Pedoman Hidup bagi Manusia, khususnya Ummat Islam, ternyata tidak dikenal istilah “Idul Fitri/Iid al Fitri juga Idul Adha”, apalagi cara mengisi kedua hari tersebut seperti di Indonesia.

Istilah “Iid” yang tercantum dalam Al Qur’an hanyalah termuat dalam QS Al Maidah [5] ayat 112 – 115, yang menerangkan Permohonan Isa Al Masih Anak Maryam kepada ALLAH SWT, Tuhannya, agar menurunkan Hidangan Besar Dari Angkasa untuk jadi “Iid” atau “Ma-Iid-ah”. Dan makna “Iid” dalam ayat ini dimaksudkan sebagai “Pesta Makan Besar” bersama-sama sebagai Tanda Kemukjizatan Nabi Isa Al Masih AS atas izin ALLAH menuruti permintaan pengikut dan calon pengikutnya.

Entah siapa yang pertama memulai menyebut tanggal 1 Syawal sebagai Idul Fitri dan tanggal 10 Zulhijjah sebagai Idul Adha. Namun yang pasti, penempatan kata “Iid” yang bermakna Pesta Makan Besar, telah menjadikan kebanyakan Umat Islam di Indonesia mengisi tanggal 1 Syawal dengan acara Pesta Makan Besar Bersama Keluarga dan Tetangga yang pada akhirnya mengarah pada perilaku ‘Mubazir, Boros, Riya’ yang tentunya sama sekali tidak dicontohkan Nabi Muhammad SAW, bahkan perilaku tersebut amat dibenci Beliau. Karena yang Beliau ajarkan dan contohkan adalah “Hanya makan ketika lapar, segera berhenti makan ketika mulai kenyang, dan sederhana dalam berpakaian”.

Dan dalam “merayakan” kedua hari tersebut (1 Syawal & 10 Zulhijjah) Nabi Muhammad SAW mengisinya dengan memperbanyak zikir “Takbir – Tauhid/Tahlil – Tahmid” secara khidmat tanpa mengganggu ketenangan dan kenyamanan lingkungan, dan Beliau sempurnakan dengan berpakaian terbaik (bukan baru) lalu melakukan sholat sunnah berjamaah 2 rokaat ditambah khutbah penutup serta doa-doa, kemudian kembali ke rumah untuk bersilaturahim dalam keluarga dalam kesederhanaan dan penuh rasa empati pada duafa.

Lantas, Tradisi Kemeriahaan di 1 Syawal yang kita anggap Idul Fitri di Indonesia, ajaran siapakah ?!


Fadiel Aburafa
Meniti Jalan Iqro dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli

(Sumber Bacaan : buku “Al Qur’an Tentang Sholat, Puasa, dan Waktu” karya Nazwar Syamsu.)

27 Agustus 2009

I'tikaf Untuk Tafakur Selama Romadhon


Libur sepanjang romadhon ? Mana mungkin ! Tidak produktif ! Merugikan Perusahaan, Pengusaha, dan Pemerintah, bahkan Negara ! Ya, mungkin (pasti) akan mucul komentar-komentar seperti demikian. Wajar saja. Karena selama ini Ummat Islam Indonesia sudah terbiasa dengan pola kehidupan yang diwariskan Penjajah Kolonial selama ratusan tahun. Jadi apa yang berlaku saat ini sudah dianggap Hukum Tidak Tertulis yang menjadi adat kebiasaan tetap. Hanya saja benarkah demikian adanya ?!

Idealnya, jika merujuk Petunjuk ALLAH dalam Al Qur'an (QS 2:187, QS 2:65, QS 4:47, QS 2:66) dan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, maka selama Puasa Romadhon, pada siang harinya kita perbanyak I’tikaf di Masjid mengkaji dan merenungkan ayat-ayat ALLAH dalam Al Qur’an dan Semesta Raya, dan pada malam harinya memperbanyak Qiyamul Lail di rumah masing-masing, agar hikmah puasa lebih besar demi menggapai derajat taqwa kita yang tertinggi.

Coba kita pikir, kebanyakan dari pegawai negeri dan karyawan swasta adalah berlibur pada hari Sabtu dan Minggu di Indonesia. Berarti sekitar 50 x Sabtu dan 50 x Minggu.
Andaikan diputuskan cukup berlibur minggu saja, sementara sabtu tetap masuk, lalu sepanjang 29 atau 30 hari Romadhon ditambah 2 hari bulan Syawal kita berlibur, maka Muslimin Indonesia tentunya bisa lebih mendayagunakan berbagai Hikmah Romadhon sesuai Petunjuk ALLAH yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW seperti diatas. Dan Negara atau Pengusaha pun tidak dirugikan mengenai kewajiban hari kerja pegawai dan karyawan, sementara selisih hari tersisa dapat digunakan untuk jatah cuti sesuai keperluan.

Rasanya ini bisa dilaksanakan pada hampir semua Bidang Kerja, kecuali pada Unit-unit Pelayanan Masyarakat Yang Mendesak, seperti Rumah Sakit dan Penanggulangan Musibah dan Bencana serta Pelayanan Transportasi Massal, dan Pertahanan dan Keamanan. Sementara unit Kerja Lain bisa dilakukan Pola Piket Bergantian sepanjang Romadhon. Saya yakin, jika ini mau diterapkan secara sungguh-sungguh dan bersinergi dengan Negara Muslim lainnya, pasti dapat terlaksana, karena Nabi dan Para Khulafaur Rasyidin telah mempraktekkannya.

Bukankah ALLAH telah memberi keleluasaan yang amat besar selama 11 bulan buat kita untuk "menikmati" kesenangan dunia, lantas mengapa kita sulit untuk lebih memfokuskan waktu kita pada-NYA hanya 1 bulan saja ?

Dan mengapa hal ini belum terpikir oleh Pemerintah dan Para Ulama Dari Berbagai Sudut Keilmuan di Negara Muslim Terbesar di Dunia, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini ?
Dan kondisi serta kebiasaan kita saat ini merujuk pada kebiasaan dan petunjuk siapakah ?

Semoga ALLAH segera menunjuki kita semua kebenaran ayat-ayat-NYA dan Keteladanan Nabi-NYA. Amin Ya Robbal ‘Aalamiin.

Wallahu A'lam.

Fadiel Aburafa
Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli

19 Agustus 2009

Merdeka dan Nasionalisme itu...


Ada yang mengatakan, mereka yang mempertanyakan Apakah Saat Ini Indonesia Telah Merdeka Adalah Orang-orang Bodoh. Ya, secara fisik kita memang telah merdeka dari Bangsa Asing, tetapi apakah hanya sebatas itukah arti sebuah kemerdekaan bagi suatu negara dan bangsa ? Sebatas bebas secara fisik dari penjajahan asing ?

Ir. Soekarno, Sang Proklamator antara lain mengatakan, wujud merdeka itu jika Indonesia telah mampu Berdikari, Berdiri diatas kaki sendiri, setidaknya dalam Ekonomi, Politik, Hukum, dan Kebudayaan. Buya HAMKA mengatakan, makna lain dari kemerdekaan adalah keadilan, keadilan bagi seluruh rakyat indonesia. Apakah kita sudah se-merdeka Jepang yang dulu bahkan Kalah Perang di Perang Dunia II oleh Amerika dan Sekutunya ?

Buat kita yang tinggal di perkotaan mungkin Suasana Merdeka mudah dirasakan, meski belum oleh seluruh warganya. Tetapi bagaimana dengan mereka yang hidup di pelosok desa. Mereka bahkan masih susah untuk sekedar menikmati penerangan listrik, jalan beraspal, sekolah yang layak, puskesmas yang memadai, bahkan ketersediaan air bersih pun harus berjalan hingga beberapa kilometer. Bahkan mungkin Pejabat Setingkat Camat pun belum pernah berkunjung ke sekitar tempat tinggal mereka. Belum lagi mereka yang tinggal di Pulau Terluar yang lebih dekat dengan negara tetangga. Mungkin mereka bingung untuk merasa sebagai Bangsa Indonesia ataukah warga negara jiran.

Dan biasanya juga, setiap memperingati Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus, maka segera muncul isu Nasionalisme. Dari yang Para Pejuang Kemerdekaan hingga Para Politisi dan Kita Penikmat Kemerdekaan, memaknai Nasionalisme dengan sudut pandang masing-masing.

Tetapi, bagaimana memaknai nasionalisme di tengah serbuan produk-produk negara asing yang semakin mudah didapat di dalam negeri dengan kualitas dan harga yang bersaing dengan produk lokal.
Rasanya rakyat kita sudah terbiasa disuguhi iklan dan pemahaman bahwa yang dari luar pasti lebih bagus, sadar atau tidak, sengaja atau terpaksa, kita semakin memuja keunggulan Asing.

Apalagi penggusuran pasar-pasar tradisional dan pemukiman yang dianggap kumuh (padahal mereka terpaksa hidup kumuh karena gagal menerima pekerjaan dan penghidupan layak dari Pemerintah sesuai amanat UUD 1945), kemudiannya segera berdiri Pusat Perbelanjaan Modern yang menyajikan beragam Produk Luar. Bahkan Areal Gelora Bung Karno pun yang dulu hanya diperuntukkan semata untuk Pembinaan Olah Raga kini sebagiannya telah jadi Pusat Penjualan Beragam Produk Asing yang begitu menggugah selera Kaum Berduit dan juga mereka yang memaksakan diri masuk ke level tersebut.

Kita jadi terbiasa membeli dan makan buah-buahan : Durian Monthong, Apel Washington, Anggur Perancis, Melon Australi, dan Jeruk serta Lengkeng China, Jambu dan Mangga Bangkok.
Kita semakin jarang temui, khususnya di Mal dan Supermarket buah produk lokal : Mangga Indramayu, Rambutan Rapiah, Jeruk Pontianak, Salak Pondoh, Sawo, Jamblang, Buni, Jambu Air, Sawo Susu, Mangga Panjangjiwo, atau buah lokal lainnya.
Belum lagi yang berbau tekhnologi maka kita lebih memilih : Ponsel Blackberry, Mobil dan Motor Full CBU. Rokok biar keren memilih merk Marlboro, Fashion musti di Butik Luar/ Merk Luar, bahkan sakit pun lebih memilih RS Internasional. Tak luput pula sebagian besar kita lebih bangga mempelajari Ilmu Beladiri Asing seperti Karate, Judo, Taekwondo, ataupun Wushu dibadingkan Belajar Pencak Silat yang Asli Indonesia.

Dan ternyata Bahan Baku Tempe dan Tahu saja, yang merupakan Cemilan Gorengan Favourite, yakni kedelai, kita mesti impor dari Amerika. Beras juga banyak hasil impor dari Vietnam, negara yang baru selesai perang dan yang dulu belajar pertanian kepada Indonesia. Sementara lahan subur untuk pertanian disekitar Jabodetabek digusur untuk Mall, Pabrik, Perumahan, dan Pusat Hiburan.

Semakin banyak Perusahaan Makanan dan Minuman lokal yang diakuisisi Asing melalui kepemilikan modal di Pasar Saham, yang batas maksimalnya bisa hingga 93%.
Merk teh celup sudah diakuisisi asing, kecap juga, dan bank-bank juga tak luput dari Akuisisi Asing.

Sulit memang untuk lepas dari Penguasaan Asing, mulai bangun tidur hingga tidur lagi, kita telah dicengkeram dengan jeratan maha kompleks. Suka atau tidak, ini harus kita akui bersama.

Namun jika mau, kita pasti bisa, tetapi rakyat adalah pelaksana, apalagi di masyarakat yang terbiasa dengan budaya paternalistik, maka keteladanan dari Pemerintah lah yang paling utama, semoga kesadaran rakyat mengikuti.

Maka...Merdeka dan Nasionalisme itu kini... Entahlah...........

18 Agustus 2009
Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli
[Yang Belum Mampu Jadi Nasionalis Sejati Menurut Definisi Para Legiun Veteran RI]

02 Juni 2009

BOS ZUHUD & STAF WAHN

Alkisah, dalam suatu perusahaan yang bergerak pada bisnis “Syariah Fashion”, ada cerita yang layak untuk direnungkan. Hal ini menyangkut kebiasaan Bos dan Seorang Staf di perusahaan tersebut, berkait dengan apa yang disebut “zuhud” dan “wahn” dalam keseharian aktifitas kita. Begini kisahnya.......

Bos perusahaan tersebut sebut saja namanya Tuan Cemad, mungkin maksud orang tuanya saat memberikan nama adalah agar ia menjadi pribadi yang cerdas mempersiapkan masa depan hidupnya. Tuan Cemad memiliki beberapa outlet pakaian muslim/muslimah. Omzetnya per bulan telah mencapai Rp 300.000.000,- dengan keuntungan bersih tidak kurang dari Rp 35.000.000,- per bulan. Ia adalah pribadi yang bersahaja. Sebagai Bos ia hanya menggunakan mobil minibus yang harganya dibawah Rp 100.000.000,- dan sudah ia miliki selama tiga tahun. Menurut sumber yang layak dipercaya, Tuan Cemad taat membayar pajak perusahaannya dan tekun membayar kewajiban zakat pribadinya. Ia juga dengan ringan tangan men-sedekah-i pengemis dan pengamen yang sering mangkal diperempatan jalan saat lampu merah.
Bila ada pertemuan bisnis dengan koleganya, saat ditengah jalan terjebak macet, maka ia sering mendahulukan untuk mampir ke mesjid terdekat demi menghindari tertinggal kewajiban sholatnya, meski dengan resiko gagal order sekalipun. Saat pulang kerja, karena menuju kota pinggiran Jakarta dan melalui tol yang mana pasti padat saat jam pulang kerja, maka ia memilih untuk menunggu pulang setelah ia mengerjakan sholat maghrib agar tidak kehabisan waktu di jalan tol. Sebagai alat komunikasi, ia hanya memiliki 2 buah handphone level “mid end” yang baru ia ganti dengan yang baru jika yang lama telah benar-benar rusak. Prinsipnya, segala barang keperluan yang diutamakan adalah fungsi bukan gengsi apalagi sekedar ikut arus trend saja.
Dalam hal investasi, anak-anaknya telah diikutkan program asuransi pendidikan, ia dan isterinya juga telah memiliki polis asuransi syariah dan juga menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung bagi masa depan dan demi mengantisipasi masa sulit yang tidak dapat diprediksi.

Sementara itu, dari beberapa karyawannya, ia memiliki Seorang Staf administrasi, namanya Ancu. Karyawannya ini berumur sekitar 33 tahun, memiliki isteri yang juga bekerja dan satu orang anak yang masih balita. Ancu sang karyawan, adalah tergolong “Orang Gaul”. Tiap ada keluar handphone jenis baru dengan fitur lebih menarik, maka segera ia berusaha mengganti yang lama dengan keluaran baru, meski harus mencicil alias kredit. Pakainnya serba ber-merk. Senang makan di luar bersama isteri dan anaknya di Restoran Fastfood ala Amerika. Gemar membeli DVD film, CD MP3 music, dan DVD Game. Ditanggal 20 keatas hampir tiap bulan suka ribut “tongpes” alias bokek. Ia tidak biasa menyisihkan zakat atas gaji bulanannya, sulit menabung, dan cukup alergi pada yang bernama asuransi jiwa dan kesehatan.

Jika pulang kerja jam 17.30 sore, ia segera pulang ke rumahnya yang terletak dikota pinggiran Jakarta. Tidak jarang ia terlewat dan kehabisan waktu maghrib karena enggan mampir ke mesjid yang sebenarnya banyak bertebaran disepanjang jalan pulangnya.

Dari cerita diatas, manakah yang tergolong Zuhud, Tuan Cemad atau karyawannya Si Ancu ?
Tentu sepatutnya kita jawab : Tuan Cemad.

Jadi Zuhud bukanlah berarti Tidak Kaya ataupun Tidak Boleh Kaya, melainkan bagaimana kita bisa Meletakkan segala kesenangan dunia sebatas di genggaman saja dan tidak mencintainya hingga bersemayam di dalam hati.

Sementara Tamak alias Wahn, juga tidak berarti hanya dilakukan oleh orang kaya, bahkan karyawan kecil, pedagang sayuran, termasuk sopir angkutan umum pun bisa terjerumus pada perilaku wahn, yang lebih mendahulukan kenikmatan materi dibanding mencari ridho illahi.

Semoga kita dapat tergolong kelompok manusia seperti yang telah dipilih oleh Tuan Cemad.

Ihdinas Shiroot Al Mustaqim, Ya Robbul Adzim.
Wallahu A’lam.

# Bang ARIN Fadilah #
Inspirasi dari buku “Islamic Financial Planning”

24 Maret 2009

Menjaga Masa Depan Keuangan Keluarga

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya, para pemboros adalah saudara-saudara setan (dari jenis jin dan manusia), dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhan-nya”.
(terjemah Al Qur’an Surat 17 ayat 26-27)

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan AC Nielsen dan Citibank menunjukkan bahwa 70% (tujuh puluh persen) Eksekutif di Indonesia saat ini terancam miskin dihari tua mereka (detikfinance 03/02/2009). Hal tersebut dikarenakan, mereka saat masih muda dan berpenghasilan, tidak melakukan perencanaan keuangan untuk menghadapi masa sulit dan masa tuanya.

Sementara di media massa elektronik dan cetak, kita sering kali melihat dan mendengar bagaimana pasangan suami isteri, termasuk para selebritis, bercerai. Biasanya, kalau bukan karena penghianatan cinta maka masalah terbesarnya adalah urusan ekonomi keluarga pasutri tersebut. Permasalahan utama sepertinya bukan kurangnya pendapatan tetapi lebih pada bagaimana mengaturnya. Karena pendapatan yang besar pun akan selalu tidak cukup jika pemimpin dan anggota keluarga berperilaku boros atau berlebih dalam membelanjakannya. Dan pendapatan yang kecil (belum besar), bila terencana dengan baik dalam pengeluarannya akan bisa berbahagia bahkan bisa menabung atau berinvestasi.

Banyak fakta menunjukkan bahwa banyak orang kaya saat ini, dulunya adalah orang miskin dari keluarga miskin. Selain itu, banyak keluarga yang tidak berpenghasilan besar tetapi mampu menghantarkan anaknya ke jenjang pendidikan sarjana dikarenakan keluarga “tidak kaya” tersebut mampu mengelola atau merencanakan keuangan mereka meskipun sangat minim.

Dengan demikian, meski rendahnya pendapatan adalah masalah, secara jangka panjang pendapatannya bisa menjadi lebih tinggi, jika dikelola dengan perencanaan yang baik. Dan sebaliknya, meskipun berpendapatan tinggi, jika tidak dikelola dengan baik, ujung-ujungnya akan berada dalam kondisi kekurangan.
Dan pastikan bahwa jenis investasi yang akan dan telah anda gunakan untuk merencanakan keamanan keuangan anda dan keluarga dimasa mendatang adalah yang seminimal mungkin bebas dari maysir, gharar, dan riba, seperti yang kini lazim disebut sebagai Instrumen Investasi Syariah.

“Sesungguhnya, engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan cukup (kaya), lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka hidup susah (miskin), yang menadahkan tangan-tangan mereka kepada manusia”.
(terjemah Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)


#Bang ARIN Fadilah#
dari berbagai sumber

Investasi Link Asuransi Syariah, klik http://premi-iqro.blogspot.com

06 Maret 2009

MATA UANG bernama HALLALAN TOYYIBAN

Ketika sedang mengisi ulang gas elpiji (LPG) tabung isi 12 kg dirumah saya yang habis beberapa hari yang lalu, saya iseng bertanya pada Bang Ucok Hasibuan, tetangga saya yang membuka warung sembako plus air mineral dan gas elpiji, mengenai dampak penjualan rokok diwarungnya setelah keluar Fatwa Haram Terbatas atas rokok. Jawabannya adalah “tidak ada pengaruh apa-apa, semua berjalan seperti biasa”. Ia lalu menambahkan bahwa Pak Haji didepan rumahnya (saya kenal beliau pengurus mesjid) mengatakan – menurut pengakuan Bang Ucok- bahwa tidak ada dalil/petunjuk dalam Al Qur’an untuk meng-haram-kan rokok, yang ada diharamkan itu makan babi, makan darah, membunuh, syirik, judi, dan khamr. Saya diam, dan mencatat pernyataan itu dalam pikiran saya. Hanya saja saya tidak puas dengan pernyataan Pak Haji tersebut, karena tidak mungkin ulama-ulama cerdas di MUI mengeluarkan sesuatu jika tidak memiliki dalil/alasan yang benar-benar kuat dan otentik.

Kemudian saya teringat pernyataan teman saya yang lebih senior, saat saya masih senang dengan rambut yang enggan dicukur (gonjes) beberapa belas tahun lalu. Dia mengatakan bahwa bagi dia minum whiskey apalagi sekedar anker bir pasti tidak haram, karena ia tidak akan mabuk. Dan teman saya itu memang jagoan kalau soal minuman beralkohol.

Lantas saya berpikir, bagaimana dengan morfin, ganja, aborsi, traficking, manipulasi pajak, spekulan penimbun sembako dan BBM, white collar crime, electronic transaction crime, dan lain sebagainya ? Apakah Al Qur’an dan Al Sunnah tidak memberi dalil dan atau petunjuk akan hukumnya ?

Ketika saya sedang membaca "terjemah" Al Qur’an yang sedikit mulai saya paksa untuk mau membacanya tiap menjelang tidur malam meski sekedar 1 - 5 ayat saja, itupun masih bolong blentong alias belum tekun dan rutin, ada sesuatu yang sepertinya membuka pemahaman saya, bahwa sesuatu dilarang (haram) bukan karena sesuatu tersebut tidak memiliki manfaat, tetapi karena keburukannya (mudhorot) jauh lebih banyak dibanding manfaatnya yang paling sekedar “economic value” (nilai ekonomi) semata. Itupun hanya untuk jangka pendek karena ongkos sosial ekonomi jangka panjangnya justeru jauh lebih besar. Misalkan saja judi (maysir) dan minuman beralkohol (khamr).

Dan ketika bicara soal mengkonsumsi rizki yang disebar ALLAH swt dimuka bumi untuk manusia, DIA memberi pesan - tepatnya rambu hukum - agar hanya makan, minum, mengkonsumsi, mengambil, dan memanfaatkan HANYA sesuatu yang "HALALAN TOYYIBAN" atau "HALAL LAGI BAIK" saja, suatu syarat yang sejatinya merupakan satu kesatuan, atau biasa diistilahkan sebagai “dua sisi mata uang” yang tidak mungkin dipisahkan.

Contoh sederhananya seperti :
(1) Sate kambing dan soto jeroannya, jelas dari sisi hukum adalah halal, tetapi bolehkah orang yang memiliki tekanan darah tinggi dan potensial berpenyakit jantung koroner untuk memakannya seporsi sedang 2 hari sekali saja ? Atau bolehkan Pria sehat berumur diatas 40 tahun memakannya 2 porsi sehari selama sebulan berturut-turut ? Apakah yang akan terjadi pada orang itu ? Kenapa ?
(2) Atau lalapan daun singkong dan bayam hijau rebus, apakah boleh sering dikonsumsi oleh orang yang berpotensi penyakit asam urat ? kenapa ?
Bahkan masih banyak lagi contoh jika ingin disebutkan satu persatu.
Dan ini memang butuh keikhlasan untuk "membuka lebar-lebar mata hati dan mata pikiran" kita untuk memahami dan memaknainya.

Ternyata kata kunci “Halal & Toyib” selama ini dibiaskan dan dibiarkan ter-erosi dengan hanya mengedepankan sisi HALAL saja atas sesuatu, dan inilah yang pada akhirnya memicu ketidaksepahaman atas suatu fatwa hukum. Pengeliminasian kata Toyyib, yang sejatinya toyyib itu mengandung definisi baik/higienis/konstruktif/tidak merugikan diri sendiri apalagi orang lain, patut diduga menjadi kealpaan kita yang salah atau tidak utuh memahami isyarat petunjuk-NYA dalam Al Qur’an yang memang pasti merupakan "Tuntunan Lengkap Hingga Kiamat" bagi manusia, khususnya kaum muslimin dan muslimat.
Kini dengan kata kunci “HALLALAN TOYYIBAN” yang sejatinya adalah merupakan “DUA SISI MATA UANG”, insya ALLAH kita bisa jelas dan tegas untuk bersikap - minimal untuk diri sendiri dan keluarga terkecil kita - mengenai hukum rokok, morfin, ganja, aborsi, traficking, manipulasi pajak, spekulan penimbun sembako dan BBM, infotainment, mencari untung kelewat besar, white collar & electronic transaction crime, spekulasi penjualan mata uang asing (valas), termasuk saat kita memilih model dan gaya berpakaian dimuka umum, serta saat kita memilih jenis investasi dan badan tempat untuk kita menanam investasi tersebut.

Ihdinas Shiroot Al Mustaqim, Ya Robbul Adzim.
Wallahu A’lam.

# Bang ARIN Fadilah #

25 Februari 2009

JALAN IQRO


Jalan iqro telah menjadikan kawanku penulis
Jalan iqro telah menjadikan kawanku birokrat
Jalan iqro telah menjadikan kawanku penyair
Jalan iqro telah menjadikan kawanku politisi
Jalan iqro telah menjadikan kawanku pebisnis
Jalan iqro telah menjadikan kawanku ustadz
Jalan iqro telah menjadikan kawanku konsultan

Jalan iqro pula-lah yang sekarang sedang tertatih-tatih coba aku tempuh
Untuk belajar memaknai hidup dan tujuan sebenarnya hidupku
Meski debu dan lumpur ke-jahiliyah-an masih melekat erat dan tebal
Disekujur tubuh hasrat, pikiran, ucapan dan tindakanku

Ya ALLAH, bantulah aku yang lemah ini untuk tetap istiqomah di jalan iqro
Agar keberkahan MU menyirami rizki, diri, dan keluargaku.......Aamiin.
#Bang ARIN Fadilah#
(saat mengomentari Blog Bang Jali yang mulai Berpuisi Hikmah itu)

16 Februari 2009

YOGA HARAM ? Kan ada Sholat Fardhu 17 Roka’at !!!

Tanggal 26 Januari 2009, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan beberapa Fatwa Haram, diantaranya mengenai YOGA (Jika Dicampur Dengan Ritual & Doa Agama Hindu). Dan Seperti biasa, pendapat Pro dan Kontra pun bermunculan.

Saya tidak akan berkomentar apakah Fatwa Haram tersebut benar dan tepat. Saya hanya ingin berbagi ilmu yang sudah saya dapat dengan sesuatu yang bisa menggantikan YOGA bahkan jauh lebih baik bagi Ummat Islam, yaitu SHOLAT.

Berdasarkan buku-buku yang pernah saya baca seperti “Mukjizat Gerakan Sholat” karya Dr. dr. Sagiran, seorang dokter Spesialis bedah syaraf, atau buku mengenai sholat dipandang dari sudut Pengobatan Tradisional China karya Master Kungfu dan Ahli Pengobatan Tradisional China Gunawan Saktiawan yang menyebut Gerakan dalam Sholat sebagai Suprayoga, ternyata ALLAH swt telah memberikan kepada Ummat Islam “The Highest & The Deepest Yoga” buat ummat yang dikasihi-NYA, yaitu SHOLAT FARDHU 17 ROKA’AT.

Jika tekun dan teratur serta sesuai rukun dan syarat sahnya, maka mulai dari Wudhu Hingga Salam, banyak sekali manfaatnya bagi penyembuhan dan penyehatan Fisik & Psikis. Jika 5 waktu sholat fardhu (17 Rakaat) serta Ritual Wudhu kita kerjakan secara benar, berarti bukan sekedar pahala untuk akhirat saja yang kita terima, melainkan juga sekaligus kita telah melakukan tekhnik pijat dan urut, tekhnik pernafasan dan meditasi, serta tekhnik senam dan yoga, yang pastinya sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan jiwa kita.
Apalagi jika kita mau menambahnya dengan tadarus Al Qur’an (silahkan baca buku The True Power of Water Karya hasil penelitian Dr. Masaru Emoto & Kazuya Ishibasi dari Jepang). Lalu lengkapi dengan i'tikaf, shoum (puasa), dan husnudzon (positive thinking).

Masalahnya kembali pada kita, mau digunakan atau tidak segala kebaikan sholat dan ritual ibadah lainnya yang telah diberikan ALLAH swt Yang Maha Mengetahui akan fitrah dan kebutuhan kita lahir dan batin ?!
Wallahu A’lam.
#Bang ARIN Fadilah#

12 Februari 2009

Siapa Teladan......Siapa Merenung......Siapa Peduli ?!

Pulang kerja tgl 10 Pebruari 2009, jam sudah mendekati pukul 6 petang. Ditengah perjalanan saya melihat motor yang menyalip saya, dinaiki oleh 2 orang. Yang mengemudikan motor memakai helm full face, memakai kaus oblong, dan bersandal jepit. Sedang yang dibonceng rasanya patut saya komentari.

Beliau yang dibonceng mengenakan pakaian serba putih, pakaian muslim lazim biasa disebut, ditempat saya biasa disebut Baju Koko. Beliau itu mengenakan peci yang juga putih, berumur sekitar hampir lima puluh tahun, mengenakan surban yang diselempang di pundak, sambil merokok. Beliau beberapa kali meludah seenaknya dijalan.

Melihat penampilannya, saya menduga ia cukup ‘alim (ber-ilmu, bukan ilmu kesaktian maksud saya, melainkan banyak tahu ilmu syari’ah islam). Cuma jika kita bicara saat beliau itu dijalan raya, kok sepertinya jadi aneh, apa beliau itu tidak tahu aturan lalu lintas ya ? Kalau beliau yg saya maksud itu cuma anak muda yang bercelana jeans dan kaus oblong, saya tidak tercenung. Cuma beliau itu kan seharusnya memberi contoh yang baik. Lantas siapa yang bisa diteladani ? Apakah tertib berlalu lintas tidak penting dalam berakhlak islam ? Atau soal tertib lalu lintas mesti dikeluarkan Fatwa oleh MUI ? Tapi bukankah Fatwa MUI (terutama soal rokok) banyak ditentang oleh banyak Kyai/Habib utamanya dari salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia ? Boleh jadi nanti malah menambah “dagelan adu argumen” antar Ulama yang membingungkan ummat yang kebanyakan awam soal Islam seperti saya.

Akhirnya saya sampai dirumah, alhamdulillah, menjelang bedug maghrib. Anak saya yang belum genap 5 tahun laporan, kakinya berdarah (sedikit) karena “tertabrak mobil” (maksudnya mobil-mobilan yang dikendalikan remote control) saat bermain lari-larian di jalan di depan rumah (maklum diperkampungan tidak disediakan lahan fasilitas umum oleh pihak kelurahan alias pemerintah). Saya tersenyum, ingat Beliau berbaju muslim di jalan raya saat perjalanan pulang tadi. Cuma anak saya belum genap 5 tahun, jadi ia tidak bisa disalahkan bermain seasyiknya di jalan umum perkampungan dengan teman-teman sebayanya. Kalaupun mau disalahkan ya saya, yang belum mampu memberikan tempat bermain yang layak untuk dia.

Menjelang tidur, seperti biasa saya biasakan membaca selembar-dualembar dari buku-buku tentang islam dari koleksi saya yang belum mencapai 30 buah buku. Malam itu yang saya baca karangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab yang berjudul “DIA Dimana-mana – Tangan Tuhan Dibalik Setiap Fenomena”. Beliau adalah Ulama favourite saya. Dalam bukunya beliau berkata, bahwa kita bisa menarik i’tibar, contoh bermanfaat dan penuh makna, meski dari hal sepele sekalipun. Begitu yang beliau nukil dari Al Qur’an.

Beliau tuliskan bagaimana Sang Timur Lank si cucu Jengis Khan yang berhasil memporak-porandakan Baghdad yang saat itu sedang jaya setelah terinspirasi melihat semut yang sanggup mengangkat beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Lalu Issac Newton yang menemukan teori gravitasi hanya dari memperhatikan secara seksama buah apel yang jatuh ke bawah. Juga archimedes yang berhasil menemukan teori berat jenis suatu benda saat ia berenang dan melihat para perenang, sehingga mampu menjawab mana emas asli dan mana yang palsu yang ditanyakan Sang Raja.

Ternyata banyak sekali petunjuk yang ALLAH swt berikan bagi kita, hanya bisakah kita memanfaatkan petunjuk yang IA berikan tersebut kepada kita, meski petunjuk tersebut pada mulanya kita pandang sepele.

Dan berhubung hari sudah hampir tengah malam, mata sudah mulai mengantuk berat, maka buku Sang Profesor Tafsir Al Qur’an yang Beliau adalah Asset Besar dan Baik yang dimiliki Muslim Indonesia itupun saya tutup, setelah berdoa dan beristighfar “secukupnya” maka saya pun merebahkan kepala ke bantal, lalu ALLAH swt mematikan sementara saya, mati kecil, alias tidur pulas.
Subhana ALLAH Al Adzim wa Al ‘Alim.
#Bang ARIN Fadilah#

10 Februari 2009

PERILAKU DURHAKA ORANG TUA & SUAMI

Kita tentunya sering, utamanya dari ceramah dan majlis ta’lim, mendengar tentang perilaku atau tanda atau ciri dari perilaku durhaka anak kepada orang tua dan perilaku durhaka isteri kepada suaminya.
Tapi tahukah kita, bahwa sebagai ayah dan suami, kita diamanatkan dan diperintahkan oleh ALLAH swt untuk bersikap baik terhadap anak dan isteri kita ?
Tahukan kita bahwa perintah tersebut banyak tersebar dalam ayat Al Qur’an maupun Hadits ?

Adapun ciri perilaku Durhaka Suami Kepada Isteri dan Perilaku Durhaka Orang Tua Kepada Anak diantaranya :

A> Perilaku Durhaka Suami Kepada Isteri
1. Tidak melunasi mahar (mas kawin) kepada isteri
2. Menelantarkan belanja isteri
3. Mengabaikan kebutuhan seksual isteri
4. Menyenggamai isteri lewat duburnya
5. Memeras isteri baik fisik maupun mental
6. Menyebarkan rahasia hubungan sengan isteri kepada khalayak umum
7. Menyenggamai isteri saat ia haid
8. Mengganggu ketenangan isteri karena pulang larut malam
9. Memperlakukan isteri dengan kasar
10.Menyenangkan isteri dengan melanggar tuntunan agama
11.Membawa isteri ke pemandian umum
12.Menempatkan isteri serumah dengan iparnya
13.Menzihar isteri
14.Menceraikan isteri dengan semena-mena
15.Tidak berlaku adil (dalam hal materi, perasaan, dan perhatian) jika memiliki isteri lebih dari satu

B> Perilaku Durhaka Orang Tua Kepada Anak
1. Menafkahi anak dengan harta dari hasil haram
2. Mengajak atau membiarkan anak menuju kemusyrikan
3. Merintangi anak untuk menjalankan agama secara benar
4. Menelantarkan nafkah anak
5. Menelantarkan pendidikan anak
6. Menempatkan anak di lingkungan yang rusak
7. Memaksa anak menikah dengan seseorang yang tidak disukainya
8. Merintangi anak menikan dengan calon yang seiman dan baik
9. Menyerahkan asuhan dan pendidikan anak pada non muslim
10.Membiasakan atau mencontohkan perilaku boros dan pamer
11.Memberi nama yang buruk
12.Membunuh anak, termasuk dalam hal ini aborsi
13.Melahirkan anak diluar pernikahan
14.Membebani anak dengan tugas diluar kemampuan dan usianya
15.Tidak berlaku adil (dalam hal materi, perasaan, dan perhatian)jika memiliki anak lebih dari satu, mulai dari kandungan (selamatan 4 bulanan & 7 bulanan) hingga mereka telah menikah dan memiliki anak.

Jika ada hal-hal diatas yang telah terlanjur dan atau masih kita kerjakan, pintu rahmat dan maghfirah ALLAH swt selalu terbuka lebar bagi kita untuk memperbaiki diri.

Demikian sebagian dari yang saya dapat di buku karangan Ustadz Drs. M. Thalib yang diterbitkan oleh Irsyad Baitus Salam dan Kaffah Media, dengan judul mirip seperti diatas.

Semoga bermanfaat bagi saya terutama dan pembaca lainnya. Amin.
#Bang ARIN Fadilah#

09 Februari 2009

INTERMEZZO (baca : pengumuman)

Assalamu’alaikum Wr Wb
Kepada Sahabat Pengunjung Blog Saya semuanya,
Mulai Edisi Iqro 15 Mendatang, Insya ALLAH,
Demi lebih mencirikan sebagai “Muslim Indonesia”,
Maka saya akan mengubah Nama di Postingan Saya,
Dari : Abu Rafa Ibnu Nasuki
Menjadi : Bang ARIN Fadilah
yang mana...
Bang adalah kata ganti untuk cowok dari bahasa Melayu
ARIN adalah kependekan dari Abu Rafa Ibnu Nasuki,
Fadilah adalah nama asli dari ORTU, depannya pakai Ahmad.
Demikian, terima kasih.

Pohon Terlarang (Di Surga & Di Bumi)

Dalam Al Qur’an diuraikan bahwa Nabi Adam as dan pasangannya dipersilahkan tinggal di surga dan menikmati segalanya. Tetapi mereka dilarang mendekati sebuah “Pohon Terlarang” apalagi memakan buahnya. Tidak jelas pohon apa itu. ALLAH swt pun tidak menjelaskannya secara detail kepada kita, mungkin karena terjadi dimasa yang sangat lampau, sehingga tidak dianggap penting bahkan tidak ada gunanya untuk kita ketahui.

Yang lebih penting untuk kita ketahui adalah Pohon Terlarang yang ada di permukaan bumi, tempat dimana kita hidup kini. Diantara sekian banyak pohon terlarang, ada yang telah diketahui bahayanya dan telah disepakati sebagai benar-benar Pohon Terlarang (di-Fatwa Haram-kan), yaitu diantaranya pohon ganja, candu, opium, mariyuana, da sejenisnya. Penggunaannya hanya dibolehkan saat keadaan darurat dan hanya oleh pihak yang punya kewenangan akan hal tersebut.

Ada juga Pohon Terlarang lainnya di bumi, tetapi masih banyak yang menganggapnya tidak terlarang, bahkan mengkampanyekan penggunaannya dan menggunakannya secara terang-terangan seakan-akan efek pohon terlarang itu tidak berbahaya. Pohon Terlarang yang dimaksud adalah Pohon Tobacco alias tembakau yang diolah menjadi Rokok.

Ulama pada abad 16 Masehi, saat tembakau/rokok mulai dipopulerkan, karena masih sangat terbatas pengetahuannya mengenai dampak buruk merokok, akhirnya hanya menggolongkannya sebagai sesuatu yang mubah, artinya boleh dikerjakan boleh ditinggalkan.

Ulama pada abad 18 Masehi, dengan semakin banyak mengetahui efek negatif tembakau (rokok) maka akhirnya banyak yang menggolongkannya sebagai sesuatu yang makruh, artinya boleh dikerjakan tetapi lebih baik ditinggalkan.

Ulama abad 20 Masehi, setelah mengetahui banyak sekali dampak negatif dari tembakau (rokok) maka akhirnya banyak yang menggolongkannya sebagai Pohon Terlarang (Fatwa Haram) untuk dikonsumsi. Diantaranya adalah Syech Mahmud Syaltut, pemimpin tertinggi Al Azhar tahun 1960an Masehi.

Dan kini di abad 21 Masehi, para ulama kontemporer, termasuk diantaranya Pemimpin Tertinggi Al Azhar dan Mufti Mesir, Mufti Saudi Arabia, Majelis Ulama Malaysia, dan Majelis Ulama Singapura, telah menggolongkan Tembakau/Rokok sebagai Pohon Terlarang (Fatwa Haram) untuk dikonsumsi. Dan Majelis Ulama Indonesia pada 26 Januari 2009 (meski masih setengah hati dan terbatas) telah mem-Fatwa Haram-kan rokok, walaupun oleh tidak sedikit Kyai/Habib (utamanya dari Ormas Islam tertentu di Jawa Tengah dan Jawa Timur) yang sudah “kadung ketagihan racun (asap&fulus) rokok” fatwa tersebut masih ditentang dan “ditawar” supaya tetap berstatus makruh saja.

Ada juga Kyai/Habib yang “merengek” agar tembakau/rokok tidak dimasukkan sebagai Pohon Terlarang, dengan alasan takut warga kabupaten penghasil rokok tersebut akan kehilangan rizki. Mereka seperti lupa bahwa ALLAH swt menebar banyak sekali macam rizki bagi seluruh makhluk-NYA dibumi, terlebih bagi manusia yang diberi akal berlapis (ulul albab).

Meski ada pro dan kontra mengenai fatwa haram rokok secara terbatas oleh MUI, yang pasti sejak dahulu hingga kini, sebagai suatu produk pabrikan (industri besar atau industri rumahan), tidak ada satu merk rokok pun yang telah ber-label HALAL diseluruh negara di dunia.

Lantas bagaimana sikap kita terhadap tembakau/rokok ? Semua kembali pada pilihan masing-masing dengan segala konsekuensinya, dunia dan akhirat.

(Disadur - dengan beberapa penambahan- dari buku “DIA Di Mana-Mana” karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab, diterbitkan Lentera Hati, Tahun 1428H Cetakan Ke-V)

#Abu Rafa Ibnu Nasuki – Mantan Perokok Era 1986 sd 2000 Masehi#
Lihat juga Postingan Lama Saya Yang Berjudul : “Persetan Fatwa Merokok”.

02 Februari 2009

Kezholiman Israel, Kezholiman Arab, Kezholiman Kita

Diakhir tahun 1429 H / 2008 M, dunia disuguhi “tontonan mengerikan” di sekitar Kota Gaza. Pembombardiran Militer Israel yang ditujukan kepada Militer Hamas, mengakibatkan jatuhnya korban jiwa warga sipil Palestina dan kehancuran bangunan, sarana , dan prasarana umum warga Palestina, ini adalah suatu kezholiman.

Lalu roket-roket Militer Hamas diluncurkan, yang ditujukan kepada Militer Israel, mengakibatkan korban jiwa warga sipil Israel dan kehancuran bangunan, sarana, dan prasarana umum warga Israel, ini juga adalah suatu kezholiman.

Sikap kebencian dan dendam Bangsa Israel kepada Bangsa Arab, serta sikap kebencian dan dendam Bangsa Arab kepada Bangsa Israel, padahal mereka adalah sama-sama keturunan Nabi Ibrahim as, sama-sama keturunan Nabi Adam as, dan sama-sama manusia yang telah memperoleh Kitab Suci dari Tuhan yang sama, adalah suatu kezholiman.

Dan kezholiman Ummat Islam di Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan etnis, termasuk Para Kyai, Habib, Guru, serta Orang Awam diantaranya adalah :

- Gemar merokok sesuka hati, disembarang tempat, di areal fasilitas umum, dikendaraan umum, di areal masjid, di areal tempat pendidikan dan majlis ta’lim, bahkan didekat isteri dan anak kandungnya sendiri.
- Masing-masing suku atau etnis merasa sebagai kelompok manusia yang lebih baik dari yang lainnya, yang merasa ningrat merasa lebih mulia dari yang bukan ningrat.
- Mengaku muslim tetapi masih rajin melakukan Gelar Budaya yang mengarah ke perbuatan syirik (menyekutukan ALLAH swt), seperti sedekah laut, sedekah bumi, ruwatan, peringatan syuro kejawenan, menyimpan jimat dan benda pusaka keramat, berkolaborasi dengan bangsa jin agar bisa sakti, kebal, dan menjadi ahli pengobatan.
- Kebiasaan membuang sampah (termasuk abu dan puntung rokok) disembarang tempat.
- Budaya korupsi dan suap dilakukan dari kalangan masyarak kecil hingga pejabat tinggi negara, termasuk yang telah “bergelar haji” sekalipun.
- Setiap tahun jamaah haji membludak tapi sepanjang tahun banyak bayi, balita, dan kaum duafa meninggal dunia akibat kekurangan gizi (gizi buruk) dan tidak mampu berobat.
- Enggan, berat hati, bahkan tidak mau mengeluarkan shodaqoh (zakat, infak, sumbangan), tetapi rajin shoping di mall, makan di western fast food restaurant, dan nonton di bioskop.
- Melakukan pengrusakan terhadap tempat ibadah ummat non muslim bahkan sesama muslim yang berbeda aliran pemahaman, dan bukannya mereka dibimbing dengan sabar agar keluar dari kekeliruannya.
- Belum bisa membedakan antara Ideologi Pan Arabisme dengan Ideologi Rahmatan Lil Alamin Dalam Islam yang diajarkan Rosulullah Muhammad saw.
- Belum bisa membedakan antara Jihad melawan ideologi yahudi dengan Perang melawan manusia yahudi (bangsa israel).
- Tidak menjadikan Al Qur’an sebagai Rujukan Pertama & Utama untuk menyelesaikan dan mencari tuntunan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup dan kehidupan.

Ingat, Filosofi Menunjuk adalah, jika kita menunjuk orang lain berbuat zholim, maka ada tiga jari yang “menyuruh” kita untuk introspeksi atas segala perbuatan yang pernah, sedang, dan akan kita lakukan.

Ya ALLAH, tolonglah kami untuk bisa terbebas dari kezholiman-kezholiman seperti diatas, agar kami bisa menikmati Surga-MU di dunia dan di akhirat.
Amin Ya Robbal ‘Aalamin.

#Abu Rafa Ibnu Nasuki#

29 Januari 2009

Baitul Maqdis Bukan Masjid Al Aqso

Kebanyakan Ummat Islam hingga kini (Tahun 1430 Hijriah / 2009 Masehi) masih menganggap Mesjid Sulaiman (Solomon Temple) atau sering disebut Baitul Maqdis, yang ada di Yerusalem (wilayah yg diperebutkan Arab dan Israel) sebagai Masjid AL Aqso yang termaktub dalam QS 17 ayat 1.
Padahal jika Masjid Al Aqso, yang berarti “Mesjid Yang Jauh” seperti tercantum pada ayat diatas, dianggap sebagai Baitul Maqdis yang di Palestina, maka ini akan kontradiktif (bertentangan) dengan QS 30 ayat 2 – 3, dimana dikatakan pada ayat tersebut bahwa Palestina adalah “Negeri Yang Dekat”. Dan jika dikondisikan dengan masa kini (ingat, Al Qur’an berlaku sepanjang zaman) maka istilah masjid yang jauh untuk Baitul Maqdis menjadi tidak relevan lagi, karena banyak mesjid yang berjarak lebih jauh dari Masjid Al Harom dibanding Baitul Maqdis, misal Masjid Istiqlal di Jakarta. Dan tidak mungkin di dalam Al Qur’an ada kontradiktif antar ayat-ayat-NYA.

Apalagi jika melihat sejarah saat Nabi Muhammad saw masih hidup, Masjid Sulaiman (Baitul Maqdis) saat itu berstatus Gereja Nasrani yang digunakan oleh masyarakat Israel & Arab disekitarnya untuk ritual keagamaannya. Dan tidak mungkin Nabi akan berkiblat ke Baitul Maqdis jika kondisinya seperti itu, apalagi untuk di-Isra’kan kesana. Tidak mungkin. Dan hal ini ditegaskan dalam QS 2 ayat 145 bahwa Nabi Muhammad saw tidak pernah berkiblat pada kiblat agama lain.

Jadi saat sebelum Nabi Muhammad saw berkiblat ke arah Ka’bah (yang saat itu dipenuhi patung sesembahan musyrikin Arab) di Mekkah, Beliau berkiblat ke arah Kutub Utara, yang jika ditarik garis lurus seakan melewati wilayah sekitar Baitul Maqdis. Baginda Nabi saw telah mengetahui bahwa Wilayah Mekkah dulunya (sebelum Banjir Noah as) adalah Kutub Utara (sebelum dipindahkan ALLAH swt saat banjir besar tersebut ke Kutub Utara Sekarang ).
Ingat, saat itu belum ada manusia yang menyadari bahwa bumi bulat, manusia saat itu hingga ratusan tahun kemudian, masih menganggap bumi datar dan menjadi pusat tata surya.
Tapi Muhammad saw yang telah di-isra-kan oleh ALLAH swt telah diberikan ilmu mengenai susunan tata surya dan diberi ilham mengenai sejarah bumi dahulunya. Ini bisa dilihat pada QS 53 ayat 18 dan QS 2 ayat 144, sehingga ALLAH swt mengembalikan Kiblat bagi Muhammad saw dan Ummatnya ke Ka’bah di Mekkah, mengabulkan do’a Sang Nabi saw.

Berdasarkan uraian diatas, bisa ditegaskan bahwa wilayah Baitul Maqdis (Solomon Temple) di Yerusalem bukanlah kota suci bagi ummat islam. Dan Masjid Al Aqso yang sebenarnya, yang dimaksud sebagaimana yang tertera dalam QS 17 ayat 1, ada di Sidratul Muntaha.

Sementara Ardul Muqodas di sekitar Yerusalem adalah Kota Suci bagi Bangsa Israel, semenjak zaman Nabi Ya’kub as, Yusuf as, Daud as, dan mencapai puncak kejayaannya pada masa Nabi Sulaiman as (King Solomon), yang salah satu peninggalan bersejarahnya adalah Baitul Maqdis (Solomon Temple).

Dan cukuplah “Makkah Al Mukarromah” sebagai satu-satunya tempat suci bagi Ummat Islam pengikut Rosulullah Muhammad saw, sebagaimana ALLAH swt telah memuliakan kota itu sebagai “Balad Al Amin = Negeri Yang Aman”, dimana semua Ummat Islam berkiblat ke sana (Ka’bah), saat sholat, towwaf, dan ibadah ritual lainnya. Wallahu a’lam.

(Disadur dari buku “Al Qur’an Dasar Tanya Jawab Ilmiah” karya Nazwar Syamsu, diterbitkan oleh Ghalia Indonesia, Tahun 1396 Hijriah).
#Abu Rafa Ibnu Nasuki#

15 Januari 2009

Israel vs Arab = Konflik Dua Bersaudara Se-Ayah Beda Ibu

......
No more presidents
And all the wars will end
One united world
Under GOD
("When The Children Cry" by White Lion)


Masalah terbesar yang “melapisi pikiran” dari (kebanyakan) Bangsa Arab adalah mereka seperti terhenti pada sekedar meng-IMAN-i nabi Muhammad saw, Nabi Ismail as, dan Nabi Ibrahim as. Sementara bagi (kebanyakan) Bangsa Israel masalah terbesarnya adalah mereka seperti terhenti pada sekedar meng-IMAN-i Nabi Musa as, Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, dan Nabi Yakub as.
Kebanyakan dari kedua Suku Bangsa itu lupa bahwa mereka adalah sama-sama ber-BAPAK MOYANG Nabi Ibrahim as.
Sedang masalah keyakinan beragama, ingat : La Ikroha Fid Dien (tidak ada paksaan dalam memilih dan memeluk suatu agama), karena itu JELAS dinyatakan ALLAH swt dalam Al Qur’an. Dan atas resiko pilihan diatas dan konsekwensi serta konsistensinya hanya akan berbuah (reward) SURGA atau NERAKA.
Dalam sejarahnya, Bangsa Arab dan Bangsa Israil (kecuali Para Nabi dan Orang Sholih dari kedua Suku Bangsa Tesebut, yang setia berpegang teguh pada ajaran kitab suci) saling bergantian untuk saling menindas dan menzolimi (atas dasar politik). Dan musuh-musuh para Nabi juga banyak yang datang dari kedua suku bangsa tersebut (silahkan baca sejarah Para Nabi, setidaknya setelah periode Banjir Noah atau mulai periode Nabi Ibrahim as).
Satu hal yang pasti, bom-bom israel ataupun roket-roket hamas, kesemuanya menyisakan penderitaan bagi anak-anak bangsa Arab dan Israel, mereka adalah korban yang benar-benar tak berdosa atas ke-tidak rukun-an dan ke-tidak rendah hati-an para orang tua mereka.
Jadi sebelum ber-aksi atau ber-reaksi atas masalah Konflik Israel dengan Palestina/Lebanon/Mesir, ingat kembali perintah PERTAMA & UTAMA dari ALLAH swt kepada seluruh manusia sebelum Rukun Islam dan Rukun Iman yaitu : IQRO, yang maknanya baca, telaah, analisa, pahami, renungkan atas ayat-ayat ALLAH swt dalam Al Qur’an dan semesta raya, bahkan pada diri kita sendiri.
Jangan sampai, dengan keras dan lantang kita mengecam Israel (Yahudi) secara generalisir, tetapi kelakuan kita sehari-hari tidak lebih baik dari yang kita kecam tersebut, misalnya sholat lalai, zakat pelit, tadarus Qur'an jarang, bersikap sopan sulit, berpakaian sesuai syariat emoh, hobby makan di restoran fast food mereka, hubungan bertetangga napsi-napsi, dan berbisnis dengan jujur serta adil cuma prioritas ketigabelas.
Marilah kita belajar hidup sesuai tuntunan Rosulullah Muhammad saw yang merupakan Al Qur'an Berjalan, baik kepada diri sendiri, dalam keluarga, lingkup bekerja, bahkan terhadap musuh Islam sekalipun.
(Pragraf terakhir ini terkait juga dengan postingan saya yg berjudul "Dikotomi Menyesatkan Jilid 1 : ILMU").
#Abu Rafa Ibnu Nasuki#