27 Agustus 2009

I'tikaf Untuk Tafakur Selama Romadhon


Libur sepanjang romadhon ? Mana mungkin ! Tidak produktif ! Merugikan Perusahaan, Pengusaha, dan Pemerintah, bahkan Negara ! Ya, mungkin (pasti) akan mucul komentar-komentar seperti demikian. Wajar saja. Karena selama ini Ummat Islam Indonesia sudah terbiasa dengan pola kehidupan yang diwariskan Penjajah Kolonial selama ratusan tahun. Jadi apa yang berlaku saat ini sudah dianggap Hukum Tidak Tertulis yang menjadi adat kebiasaan tetap. Hanya saja benarkah demikian adanya ?!

Idealnya, jika merujuk Petunjuk ALLAH dalam Al Qur'an (QS 2:187, QS 2:65, QS 4:47, QS 2:66) dan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, maka selama Puasa Romadhon, pada siang harinya kita perbanyak I’tikaf di Masjid mengkaji dan merenungkan ayat-ayat ALLAH dalam Al Qur’an dan Semesta Raya, dan pada malam harinya memperbanyak Qiyamul Lail di rumah masing-masing, agar hikmah puasa lebih besar demi menggapai derajat taqwa kita yang tertinggi.

Coba kita pikir, kebanyakan dari pegawai negeri dan karyawan swasta adalah berlibur pada hari Sabtu dan Minggu di Indonesia. Berarti sekitar 50 x Sabtu dan 50 x Minggu.
Andaikan diputuskan cukup berlibur minggu saja, sementara sabtu tetap masuk, lalu sepanjang 29 atau 30 hari Romadhon ditambah 2 hari bulan Syawal kita berlibur, maka Muslimin Indonesia tentunya bisa lebih mendayagunakan berbagai Hikmah Romadhon sesuai Petunjuk ALLAH yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW seperti diatas. Dan Negara atau Pengusaha pun tidak dirugikan mengenai kewajiban hari kerja pegawai dan karyawan, sementara selisih hari tersisa dapat digunakan untuk jatah cuti sesuai keperluan.

Rasanya ini bisa dilaksanakan pada hampir semua Bidang Kerja, kecuali pada Unit-unit Pelayanan Masyarakat Yang Mendesak, seperti Rumah Sakit dan Penanggulangan Musibah dan Bencana serta Pelayanan Transportasi Massal, dan Pertahanan dan Keamanan. Sementara unit Kerja Lain bisa dilakukan Pola Piket Bergantian sepanjang Romadhon. Saya yakin, jika ini mau diterapkan secara sungguh-sungguh dan bersinergi dengan Negara Muslim lainnya, pasti dapat terlaksana, karena Nabi dan Para Khulafaur Rasyidin telah mempraktekkannya.

Bukankah ALLAH telah memberi keleluasaan yang amat besar selama 11 bulan buat kita untuk "menikmati" kesenangan dunia, lantas mengapa kita sulit untuk lebih memfokuskan waktu kita pada-NYA hanya 1 bulan saja ?

Dan mengapa hal ini belum terpikir oleh Pemerintah dan Para Ulama Dari Berbagai Sudut Keilmuan di Negara Muslim Terbesar di Dunia, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini ?
Dan kondisi serta kebiasaan kita saat ini merujuk pada kebiasaan dan petunjuk siapakah ?

Semoga ALLAH segera menunjuki kita semua kebenaran ayat-ayat-NYA dan Keteladanan Nabi-NYA. Amin Ya Robbal ‘Aalamiin.

Wallahu A'lam.

Fadiel Aburafa
Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli

19 Agustus 2009

Merdeka dan Nasionalisme itu...


Ada yang mengatakan, mereka yang mempertanyakan Apakah Saat Ini Indonesia Telah Merdeka Adalah Orang-orang Bodoh. Ya, secara fisik kita memang telah merdeka dari Bangsa Asing, tetapi apakah hanya sebatas itukah arti sebuah kemerdekaan bagi suatu negara dan bangsa ? Sebatas bebas secara fisik dari penjajahan asing ?

Ir. Soekarno, Sang Proklamator antara lain mengatakan, wujud merdeka itu jika Indonesia telah mampu Berdikari, Berdiri diatas kaki sendiri, setidaknya dalam Ekonomi, Politik, Hukum, dan Kebudayaan. Buya HAMKA mengatakan, makna lain dari kemerdekaan adalah keadilan, keadilan bagi seluruh rakyat indonesia. Apakah kita sudah se-merdeka Jepang yang dulu bahkan Kalah Perang di Perang Dunia II oleh Amerika dan Sekutunya ?

Buat kita yang tinggal di perkotaan mungkin Suasana Merdeka mudah dirasakan, meski belum oleh seluruh warganya. Tetapi bagaimana dengan mereka yang hidup di pelosok desa. Mereka bahkan masih susah untuk sekedar menikmati penerangan listrik, jalan beraspal, sekolah yang layak, puskesmas yang memadai, bahkan ketersediaan air bersih pun harus berjalan hingga beberapa kilometer. Bahkan mungkin Pejabat Setingkat Camat pun belum pernah berkunjung ke sekitar tempat tinggal mereka. Belum lagi mereka yang tinggal di Pulau Terluar yang lebih dekat dengan negara tetangga. Mungkin mereka bingung untuk merasa sebagai Bangsa Indonesia ataukah warga negara jiran.

Dan biasanya juga, setiap memperingati Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus, maka segera muncul isu Nasionalisme. Dari yang Para Pejuang Kemerdekaan hingga Para Politisi dan Kita Penikmat Kemerdekaan, memaknai Nasionalisme dengan sudut pandang masing-masing.

Tetapi, bagaimana memaknai nasionalisme di tengah serbuan produk-produk negara asing yang semakin mudah didapat di dalam negeri dengan kualitas dan harga yang bersaing dengan produk lokal.
Rasanya rakyat kita sudah terbiasa disuguhi iklan dan pemahaman bahwa yang dari luar pasti lebih bagus, sadar atau tidak, sengaja atau terpaksa, kita semakin memuja keunggulan Asing.

Apalagi penggusuran pasar-pasar tradisional dan pemukiman yang dianggap kumuh (padahal mereka terpaksa hidup kumuh karena gagal menerima pekerjaan dan penghidupan layak dari Pemerintah sesuai amanat UUD 1945), kemudiannya segera berdiri Pusat Perbelanjaan Modern yang menyajikan beragam Produk Luar. Bahkan Areal Gelora Bung Karno pun yang dulu hanya diperuntukkan semata untuk Pembinaan Olah Raga kini sebagiannya telah jadi Pusat Penjualan Beragam Produk Asing yang begitu menggugah selera Kaum Berduit dan juga mereka yang memaksakan diri masuk ke level tersebut.

Kita jadi terbiasa membeli dan makan buah-buahan : Durian Monthong, Apel Washington, Anggur Perancis, Melon Australi, dan Jeruk serta Lengkeng China, Jambu dan Mangga Bangkok.
Kita semakin jarang temui, khususnya di Mal dan Supermarket buah produk lokal : Mangga Indramayu, Rambutan Rapiah, Jeruk Pontianak, Salak Pondoh, Sawo, Jamblang, Buni, Jambu Air, Sawo Susu, Mangga Panjangjiwo, atau buah lokal lainnya.
Belum lagi yang berbau tekhnologi maka kita lebih memilih : Ponsel Blackberry, Mobil dan Motor Full CBU. Rokok biar keren memilih merk Marlboro, Fashion musti di Butik Luar/ Merk Luar, bahkan sakit pun lebih memilih RS Internasional. Tak luput pula sebagian besar kita lebih bangga mempelajari Ilmu Beladiri Asing seperti Karate, Judo, Taekwondo, ataupun Wushu dibadingkan Belajar Pencak Silat yang Asli Indonesia.

Dan ternyata Bahan Baku Tempe dan Tahu saja, yang merupakan Cemilan Gorengan Favourite, yakni kedelai, kita mesti impor dari Amerika. Beras juga banyak hasil impor dari Vietnam, negara yang baru selesai perang dan yang dulu belajar pertanian kepada Indonesia. Sementara lahan subur untuk pertanian disekitar Jabodetabek digusur untuk Mall, Pabrik, Perumahan, dan Pusat Hiburan.

Semakin banyak Perusahaan Makanan dan Minuman lokal yang diakuisisi Asing melalui kepemilikan modal di Pasar Saham, yang batas maksimalnya bisa hingga 93%.
Merk teh celup sudah diakuisisi asing, kecap juga, dan bank-bank juga tak luput dari Akuisisi Asing.

Sulit memang untuk lepas dari Penguasaan Asing, mulai bangun tidur hingga tidur lagi, kita telah dicengkeram dengan jeratan maha kompleks. Suka atau tidak, ini harus kita akui bersama.

Namun jika mau, kita pasti bisa, tetapi rakyat adalah pelaksana, apalagi di masyarakat yang terbiasa dengan budaya paternalistik, maka keteladanan dari Pemerintah lah yang paling utama, semoga kesadaran rakyat mengikuti.

Maka...Merdeka dan Nasionalisme itu kini... Entahlah...........

18 Agustus 2009
Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli
[Yang Belum Mampu Jadi Nasionalis Sejati Menurut Definisi Para Legiun Veteran RI]