Bos perusahaan tersebut sebut saja namanya Tuan Cemad, mungkin maksud orang tuanya saat memberikan nama adalah agar ia menjadi pribadi yang cerdas mempersiapkan masa depan hidupnya. Tuan Cemad memiliki beberapa outlet pakaian muslim/muslimah. Omzetnya per bulan telah mencapai Rp 300.000.000,- dengan keuntungan bersih tidak kurang dari Rp 35.000.000,- per bulan. Ia adalah pribadi yang bersahaja. Sebagai Bos ia hanya menggunakan mobil minibus yang harganya dibawah Rp 100.000.000,- dan sudah ia miliki selama tiga tahun. Menurut sumber yang layak dipercaya, Tuan Cemad taat membayar pajak perusahaannya dan tekun membayar kewajiban zakat pribadinya. Ia juga dengan ringan tangan men-sedekah-i pengemis dan pengamen yang sering mangkal diperempatan jalan saat lampu merah.
Bila ada pertemuan bisnis dengan koleganya, saat ditengah jalan terjebak macet, maka ia sering mendahulukan untuk mampir ke mesjid terdekat demi menghindari tertinggal kewajiban sholatnya, meski dengan resiko gagal order sekalipun. Saat pulang kerja, karena menuju kota pinggiran Jakarta dan melalui tol yang mana pasti padat saat jam pulang kerja, maka ia memilih untuk menunggu pulang setelah ia mengerjakan sholat maghrib agar tidak kehabisan waktu di jalan tol. Sebagai alat komunikasi, ia hanya memiliki 2 buah handphone level “mid end” yang baru ia ganti dengan yang baru jika yang lama telah benar-benar rusak. Prinsipnya, segala barang keperluan yang diutamakan adalah fungsi bukan gengsi apalagi sekedar ikut arus trend saja.Dalam hal investasi, anak-anaknya telah diikutkan program asuransi pendidikan, ia dan isterinya juga telah memiliki polis asuransi syariah dan juga menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung bagi masa depan dan demi mengantisipasi masa sulit yang tidak dapat diprediksi.
Sementara itu, dari beberapa karyawannya, ia memiliki Seorang Staf administrasi, namanya Ancu. Karyawannya ini berumur sekitar 33 tahun, memiliki isteri yang juga bekerja dan satu orang anak yang masih balita. Ancu sang karyawan, adalah tergolong “Orang Gaul”. Tiap ada keluar handphone jenis baru dengan fitur lebih menarik, maka segera ia berusaha mengganti yang lama dengan keluaran baru, meski harus mencicil alias kredit. Pakainnya serba ber-merk. Senang makan di luar bersama isteri dan anaknya di Restoran Fastfood ala Amerika. Gemar membeli DVD film, CD MP3 music, dan DVD Game. Ditanggal 20 keatas hampir tiap bulan suka ribut “tongpes” alias bokek. Ia tidak biasa menyisihkan zakat atas gaji bulanannya, sulit menabung, dan cukup alergi pada yang bernama asuransi jiwa dan kesehatan.
Jika pulang kerja jam 17.30 sore, ia segera pulang ke rumahnya yang terletak dikota pinggiran Jakarta. Tidak jarang ia terlewat dan kehabisan waktu maghrib karena enggan mampir ke mesjid yang sebenarnya banyak bertebaran disepanjang jalan pulangnya.Dari cerita diatas, manakah yang tergolong Zuhud, Tuan Cemad atau karyawannya Si Ancu ?
Tentu sepatutnya kita jawab : Tuan Cemad.
Jadi Zuhud bukanlah berarti Tidak Kaya ataupun Tidak Boleh Kaya, melainkan bagaimana kita bisa Meletakkan segala kesenangan dunia sebatas di genggaman saja dan tidak mencintainya hingga bersemayam di dalam hati.
Sementara Tamak alias Wahn, juga tidak berarti hanya dilakukan oleh orang kaya, bahkan karyawan kecil, pedagang sayuran, termasuk sopir angkutan umum pun bisa terjerumus pada perilaku wahn, yang lebih mendahulukan kenikmatan materi dibanding mencari ridho illahi.
Semoga kita dapat tergolong kelompok manusia seperti yang telah dipilih oleh Tuan Cemad.
Ihdinas Shiroot Al Mustaqim, Ya Robbul Adzim.
Wallahu A’lam.
# Bang ARIN Fadilah #
Inspirasi dari buku “Islamic Financial Planning”
