16 Desember 2010

Makna AL HIKMAH “Yang Terbatasi” Penafsiran


Al Hikmah adalah suatu karunia besar yang diberikan ALLAH SWT kepada Makhluk-NYA yang DIA pilih. Namun ketika al HIKMAH dimaknakan SEBATAS apa yang dikatakan Hadits (sunnah) Shohih dari Nabi Muhammad SAW yang termaktub dalam beberapa kitab yang baru dikumpulkan berdasarkan hafalan (sekira dua ratus tahun setelah Beliau wafat) belaka, maka seolah tertutuplah Pintu Ijtihad dan pendalaman serta perluasan pemahaman akan Ilmu ALLAH yang termaktub dalam Al Qur’an dan pada Alam Raya. Lalu pada tataran yang ekstrem, menjadi STATIS-lah pemahaman agama seolah kebenaran pemahaman tentang Al Islam hanya ada pada Para Ulama Abad 2-8 Hijriah belaka. Pada akhirnya, beberapa kelompok yang merasa penafsirannya tentang Al Islam (Al Qur’an) yang PALING benar, dengan mudah men-cap sesat menyesatkan pada saudara-saudara muslim-nya dikelompok aliran pemahaman yang lain, yang notabene masih memiliki “rukun” syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji (Rukun Islam) yang sama.

Padahal ALLAH SWT sendiri menjabarkan di banyak ayat Al Qur’an bahwa al HIKMAH, yakni kemampuan memahami Dien Al Islam (dalam konteks ketetapan yakni Kitab-kitab ALLAH), telah DIA berikan pada Anbiya, Auliya, Sholihin, Shiddiqiin, dan Muttaqiin terdahulu sebelum diutusnya Muhammad ibnu Abdullah sebagai Khotamun Nabiyyin. Lalu telah DIA berikan juga pada Nabi Muhammad SAW. Dan akan terus DIA berikan pula kepada Auliya, Sholihin, Shiddiqiin, Mukminin, dan Muttaqiin hingga sesaat menjelang kiamat, agar ummat dapat memahami pesan-pesan tersurat dan tersirat dari ayat-ayat Al Qur’an, yang jelas dan menjelaskan serta yang lurus dan meluruskan itu.

Bila kita tidak yakin dengan pernyataan diatas, maka carilah di dalam Kitabullah Al Qur’an, dengan Kata Kunci alias Key Word : HIKMAH (misal dengan Al Quran Digital seperti Quranic Explorer), lalu akan didapat sekira 30 buah kata sehubungan dengan al hikmah, dalam konteks dahulu, kini, dan kemudian.

Selamat Men-tadabbur-i Al Qur’an, semoga ALLAH SWT senantiasa membimbing kita ke Shiroot Al Mustaqiim-NYA dalam sisa jatah umur kita yang terus semakin sedikit ini, ...amin.

[QS Ali Imraan : 81] “Dan (ingatlah), ketika ALLAH mengambil perjanjian dari Para Nabi : ‘Sungguh, apa saja yang AKU berikan kepada-mu (kalian) berupa Kitab dan HIKMAH kemudian datang kepada-mu (kalian) seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada pada-mu (kalian), niscaya kamu (kalian) akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya’. ALLAH berfirman : ‘Apakah kamu (kalian) mengakui dan menerima perjanjian-KU terhadap yang demikian itu?’ Mereka menjawab : ‘Kami mengakui’. ALLAH berfirman : ‘Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan AKU menjadi saksi (pula) bersama kamu (kalian)’.”

[QS Asy Syuaraa` : 83] “(Ibrahim ber-doa): Ya TUHAN-ku, berikanlah kepadaku HIKMAH dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.”

[QS Al Qashash : 14] “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, KAMI berikan kepadanya HIKMAH dan ilmu. Dan demikianlah KAMI memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Wallahu A’lam.

Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli
10 Muharrom 1432 H


Daftar Pustaka :
- Quranic Explorer on Facebook.
- Al Qur’an Tafsir Per Kata, Drs. Ahmad Hatta, MA; Pustaka Maghfirah.
- Buku “Sesat Menyesatkan”, karya Syekh Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan.

28 Oktober 2010

Nasi Goreng Sumpah Pemuda


Aneh... lho kok ada ya tukang nasi goreng mo pake nama racikannya yang dijual dengan nama yang aneh begitu, dalam arti, formal banget. Mungkin inilah yang akan terucap, bila judul diatas dijadikan Brosur Iklan yang dipasang di halaman utama sebuah Tabloid Kuliner.

Tetapi saya tidak sedang ingin membahas persoalan nama, karena kata Wiliam Shakespeare yang terkenal itu (entahlah, saya pun tidak kenal-kenal amat siapa dia) dia katakan, apalah arti sebuah nama?! Lho, kok dia bisa bahasa indonesia ya.... pikir saya sambil berpikir keras sekeras kepala para pemimpin negeri kalau dikasih masukan, yakni : jika si WS itu berkata demikian, kenapa teman-temannya ga panggil dia dengan sebutan; anjing, babi, monyet, maling, rampok, dan lain sebagainya yang jelek-jelek, hehehe... Tetapi bagi saya, mengikuti pendapat yang dikatakan dari Idola Saya, Muhammad Ibnu Abdillah ibnu Abdul Muthalib, bahwa Nama bagi seorang anak manusia haruslah yang baik, karena nama adalah bagian dari do’a orang tua kepada anaknya.

Kembali ke topik Nasi Goreng, sebenarnya ini adalah kisah nyata yang saya alami diawal-awal waktu setelah berhasil “mengubah status” dari waspada menjadi awas, alias dari status jejaka menjadi beristri. Begini kisahnya....

Suatu pagi dihari libur, seinget saya sih masih masa-masa yang kalo kata orang “isterinya pa’le” yang serumpun dengan PM Inggris, yakni Honey Moon, waktu masih suasana pagi, saya meminta (tentu dengan permohonan kata lembut penuh sayang, maklum masih baru dapet “SIM” dari Pak Penghulu) untuk dibuatkan Nasi Goreng. Kemudian sang isteri yang saya “jemput” dari Paris (-Van Java) itu membuatkannya lah. Sementara saya mengerjakan sesuatu yang dapat saya kerjakan, yang pasti bukan asyik nyantai nonton televisi lah.

Dan setelah Sang Permaisuri selesai membuatkannya dengan tangan lembutnya itu, sendiri, saya dipanggilnya untuk mencicipi. Dan BETAPA TERKEJUTnya saya. Ternyata nasi goreng yang saya minta dibuatkan itu, berwarna kuning dan beraroma jamu. Tau gak, ternyata Nasi Goreng itu salah satu bumbu utamanya adalah KUNYIT dan KENCUR.

Bayangkan.... sebagai makhluk yang dilahirkan di sekitar Kebon Jeruk, dan tumbuh besar sekitar kedoya, bonjer, pesing, dan Rawa Belong, mana pernah saya ketemu nasi goreng dari SPESIES BARU yang demikian (kalo kata guru biologi SMA 65, ibu teguh apa ya nama Beliau). Karena biasanya yang namanya Nasi Goreng, selain bawang merah, maka ada cabe dan aroma TERASI yang kental yang biasa dimasakkan oleh Mother. Benar-benar sebuah pengalaman memakan nasi goreng yang SERU, hehehe.... dan sebagai tanda sayang, maka nasi goreng itu, habislah.... (atau emang dasar kemaruk ye karena mungkin beberapa jam sebelumnya habis kerja keras : nguras bak mandi, misalnya).

Tapi seperti itulah. Kekuatan untuk bersama dan memaklumi serta menerima perbedaan, akan menghasilkan sinergi yang baik dan output yang menakjubkan. Sekitar sepuluh hampir sebelas bulan kemudian, dari hasil buah kerjasama yang halal lagi baik serta bergairah kami,lahirlah seorang putra sebagai Titipan-NYA pada kami. Alhamdulillah....


Akhirnya daku terpikir; bukankah perbedaan suku dan atau ras adalah dikatakan TUHAN untuk kita saling mengenal (ta'aruf)? Dan bukankah dalam sejarah perkembangan ISLAM, sering dikatakan oleh Para Pengkaji Shirah Nabawiyyah, bahwa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah), salah satu kunci persatuan yang dibangun Beliau adalah, Pria Muhajirin (pendatang) menikahi Wanita Anshor (pribumi) dan Pria Anshor juga menikahi Wanita Muhajirin yang telah ber-Islam?


Lantas bagaimana dengan kita dan atau orang tua kita? Masihkan mensyaratkan dalam mencari Pasangan Hidup HARUS WAJIB yang se-suku?


Bila itu masih terjadi dalam pola pikir kita, maka BERTOBAT -lah dari faham Rasialis Tersebut!!! Atau kita memang memilih untuk seperti yang dikatakan Pengusung Teori Evolusi, bahwa Manusia berasal dari Primata (kera) yang notabene cenderung rasialis dan senang mencibir dari ketinggian.


Tetapi ini tidak berarti kita tidak boleh mencari pasangan hidup yang satu suku/etnis/sekampung, melainkan sebatas, jangan sampai kita memandang lebih rendah derajat orang lain, semata karena ukuran-ukuran duniawi yang telah ditakdirkan TUHAN, termasuk dalam hal perbedaan suku/ras/etnis.

Wallahu A’lam Bisshowaab....

SELAMAT MEMAKNAI HARI SUMPAH PEMUDA
28 OKTOBER 2010


Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli

27 September 2010

Sekedar Mengikuti Agama Nabi Ibrahim AS Sebagaimana Nabi Muhammad SAW

Ada begitu banyak ayat-ayat Al Qur’an yang menyiratkan kepada kita bahwa apa yang kini kita terima dan praktekkan dalam keseharian hidup sebagai Muslimin/Muslimat dari Nabi Muhammad SAW, yang membawa Pesan ALLAH dalam Kitab Suci Al Qur’an, adalah apa yang telah ALLAH syari’atkan dan Wahyukan juga kepada Nabi Ibrahim AS, yang juga merupakan Leluhur Beliau, yang juga menjadi Leluhur Para Nabi lainnya seperti Nabi Ishak, Nabi Ya’kub (Israel), Nabi Daud AS, Nabi Musa AS hingga Nabi Isa AS.

Berikut diantaranya.....


“Dan tidak ada yang benci kepada AGAMA IBRAHIM, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh KAMI telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.”
[QS Al-Baqarah:130 ]

”........Katakanlah : "Tidak ! melainkan (kami mengikuti) AGAMA IBRAHIM yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik".
[QS Al-Baqarah:135]

“Katakanlah: ‘Benarlah (apa yang difirmankan) ALLAH’. Maka ikutilah AGAMA IBRAHIM yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.”
[QS Ali-`Imraan:095 ]

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada ALLAH, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti AGAMA IBRAHIM yang lurus? Dan ALLAH mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-NYA.”
[QS An-Nisaa`:125 ]

“Katakanlah; Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh TUHAN-ku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, AGAMA IBRAHIM yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
[QS Al-An`aam:161]

“Dan aku pengikut AGAMA bapak-bapakku yaitu IBRAHIM, Ishak dan Ya`qub. Tiadalah patut bagi kami (Para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan ALLAH. Yang demikian itu adalah dari karunia ALLAH kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri.”
[QS Yusuf:038 ]

“Kemudian KAMI wahyukan kepadamu (Muhammad SAW): ikutilah AGAMA IBRAHIM seorang yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan TUHAN.”
[QS An-Nahl:123]

“DIA telah menSYARI’ATkan bagi kamu tentang AGAMA apa yang telah diwasiatkan-NYA kepada Nuh dan apa yang telah KAMI wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah KAMI wasiatkan kepada IBRAHIM, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. ALLAH menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-NYA dan memberi petunjuk kepada (agama)-NYA orang yang kembali (kepada-NYA).
[QS Asy-Syura:013]

“Dan ber-sungguh-sungguh-lah (bejihad) kamu pada jalan ALLAH dengan kesungguhan (jihad) yang sebenar-benarnya. DIA telah memilih kamu dan DIA sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) AGAMA orang tuamu IBRAHIM. DIA telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim DARI DAHULU , dan (begitu pula) dalam (Al Qur`an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali ALLAH. DIA adalah Pelindungmu, maka DIA-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
[QS Al-Hajj:078]



Maka..... masihkan kita berpikir dan berpendapat serta berkeyakinan, bahwa Nabi Muhammad SAW, Sang Khotamun Nabiyyin yang menerima Wahyu berupa Kitab Suci Al Qur’an, adalah membawa Risalah & Syari’at Agama Baru yang bernama ISLAM, yang berbeda dengan apa yang ALLAH Wahyukan kepada Para Nabi sebelum Beliau, semenjak Nabi Adam hingga Nabi Nuh, dan semenjak Nabi Ibrahim (dan Nabi Luth) hingga Nabi terakhir sebelum Beliau?!

Al Haq Min Robb, Wallahu A’lam Bis Showaab.


Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli & Naqli
http://forum-iqro.blogspot.com

07 September 2010

Siapakah AHLUL BAIT itu sebenarnya?!


Banyak ragam penafsiran mengenai kata ‘AHLUL BAIT’ yang oleh mereka dari yang menamakan Muslim Sunni atau Muslim Syi’ah juga Kelompok Muslim Lainnya. Bahkan tidak sedikit memunculkan sifat pengagungan berlebihan (ghuluw) pada manusia, entah itu Ulama/Habib atau Imam/Umaro yang mereka sebut sebagai Ahlul Bait.

Tetapi hanya tiga inilah yang saya ketemukan mengenai hal tersebut di dalam Al Qur’an :

QS Hud (11) : 73
“Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."

QS Al Qashash (28) : 12
“dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?".

QS Al Ahzab (33) : 33
“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Pada QS Hud (11) ayat 73, Ahlul Bait merujuk pada Isteri Nabi Ibrahim.
Pada QS Al Qashash (28) ayat 12, Ahlul Bait merujuk pada Ibunda Nabi Musa.
Pada QS Al Ahzab (33) ayat 33, Ahlul Bait merujuk pada Isteri Nabi Muhammad.
Dan saya tidak menemukan makna lain atau perujukan lain daripada itu di dalam Al Qur’an.

Boleh jadi ini menandakan bahwa Bagi Para Wanita Beriman (sebagimana isteri dan ibunda Nabi-Nabi tersebut), bahwa "Medan Jihad Utama" mereka untuk meraih sebanyak-banyaknya Ridho-NYA dan Pahala-NYA adalah di dalam (sekitar) Rumahnya Sendiri (QS 33 ayat 32-35), sebagai Ibu dan Isteri yang menjadikan Suami tetap selalu dalam ketaatan Pada-NYA dan membina anak-anaknya menjadi Hamba-hamba ALLAH yang tangguh dalam Ubudiah dan Muamalah (aqidah & akhlak) hingga meraih sukses dalam ‘naungan dan standar’ Ridho-NYA. Ibu dan Isteri yang sholehah.

Mungkin itulah kenapa mereka dijuluki dengan AHLUL BAIT, yang diantara maknanya : Penghuni Rumah, Sang Pengatur Rumah, Ratu Rumah Tangga, Ibu Rumah Tangga, dan yang sejenisnya.

Al Haq Min Robb, Wallahu A’lam....


Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli
http://forum-iqro.blogspot.com/

02 September 2010

Al Qur'an Menjelaskan Bagaimana Seharusnya Kita Bersikap Padanya



"Dan sesungguhnya ini adalah jalan-KU yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-NYA. Yang demikian itu diperintahkan ALLAH kepada kalian agar kalian bertakwa."(QS Al An’am : 153)

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan Sang Pembeda..." (QS 2:185)

"Kitab itu tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS 2:2)

"Alif Laam Raa. Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu." QS (11:1)

"Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu yang dijelaskan secara terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan Kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa ia itu diturunkan dari Tuhanmu dengan kebenaran. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu." (QS 6:114)

"Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati." (QS 39:45)

"Pada hari Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (QS 16:89)

"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan." (QS 6:38)

"Katakanlah: "Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang menunjuki kepada kebenaran?" Katakanlah: "Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran." Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali setelah diberi petunjuk? Kenapa kamu? Bagaimana kamu mengambil keputusan?" (QS 10:35)

"Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS 6:115)

"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari." (QS 17:89)

"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Qur'an ini setiap macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah." (QS 18:54)

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an? Kalau kiranya ia itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya." QS (4:82)

"Berkatalah rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang ditinggalkan." (QS 25:30)

Jadi, bila ada suatu masalah yang BELUM kita ketahui hukum dan arahannya, tidak berarti Al Qur’an tidak menjelaskan atau tidak lengkap petunjuknya, melainkan kita-lah yang BELUM MAMPU menemukan Petunjuk-NYA baik yang tersurat maupun yang tersirat dalam Al Qur’an, dikarenakan KETERBATASAN ilmu kita atau bahkan mungkin kita yang MEMBATASI ragam keilmuan dalam menafsirkan dan memahami Ayat-ayat TUHAN yang merupakan sumber pokok segala ilmu hingga akhir zaman.

Maka, janganlah kita MUDAH mengatakan : tidak ada ketentuan hukumnya di dalam Al Qur’an.

Juga jangan kita mengada-adakan sesuatu yang keberadaannya, kejadiannya, dan atau kedatangannya tidak diberitakan Al Qur’an, yang menyangkut Aqidah Keislaman dan Keimanan kita.

Apakah Belum Cukup ALLAH Menjelaskan Kesempurnaan dan Keterperincian Al Qur’an Sebagai Petunjuk Segala Sesuatu Dalam Kehidupan Manusia Hingga Kiamat?!
Al Haq Min Robb, Wallahu A’lam...


Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro

09 Februari 2010

Kerbau Lebay


Andaipun ada yang menganggap malas dan bodoh, faktanya kerbau kerap bekerja keras membantu petani membajak sawah, dan pandai bertasbih pada ALLAH menurut cara yang DIA ilhamkan pada mereka {QS 7: 54, QS 16 : 49-50, QS 22 : 18}. Bagaimana dengan kebanyakan kita, bangsa manusia ?!

Baik binatang maupun manusia itu diciptakan secara fitrah memiliki kecenderungan memenuhi kebutuhan hawa nafsu. Adapun perbedaan yang sangat mendasar dari keduanya adalah dalam “Proses Pemenuhan Hawa Nafsu”.

Binatang, oleh karena mereka tidak diberi akal, maka naluri kecenderungan pemenuhan hawa nafsunya hanya sebatas fitrahnya. Misalnya, bila lapar lantas mereka pun akan segera mencari makanan untuk dimakan. Setelah kenyang mereka akan diam dan tidur-tiduran.

Adapun manusia, di samping memiliki kecenderungan hawa nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik nafsu makan ataupun nafsu kebutuhan biologis, selain itu pula manusia diberi akal. Semestinya dengan akalnya ini manusia harus lebih bisa mengendalikan hawa nafsunya dibanding dengan binatang. Tetapi dalam realita kehidupan, kita selalu menyaksikan hampir pada setiap zaman justru sebagian besar manusia itu lebih tidak terkendali dalam memenuhi kebutuhan hawa nafsunya dibanding dengan binatang. Ini terjadi akibat akal yang seharusnya berfungsi mengendalikan hawa nafsu, namun pada prakteknya malah dikendalikan hawa nafsu. Sekan-akan tugas dan fungsi akal hanyalah memikirkan bagaimana caranya untuk memuaskan hawa nafsu.

“Dan sesungguhnya KAMI jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat ALLAH) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan ALLAH), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat ALLAH). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. {Al A’raaf (7) ayat 179}.
Wallahu A’lam.

Taken & Inspired : “Manusia dan Akal” @ Republika Online, serta “Curhat Beliau”.

18 Januari 2010

Siapa Menguasai Siapa ?!


Disaat kita sedang berusaha mengejar kesuksesan untuk menguasai sesuatu, sesungguhnya yang sedang kita kejar untuk dikuasai tersebut, pada saat yang sama juga sedang berusaha mengejar kesuksesan untuk menguasai hati dan pikiran kita.

Pada episode waktu selanjutnya akan terlihat, sebenarnya siapa yang menguasai siapa ? Namun sayangnya, justru orang lain yang mudah melihat hal tersebut. Sementara kita sulit untuk menyadarinya, apalagi mengakuinya bila ternyata sebenarnya hati dan pikiran kita -lah yang berhasil di kuasai oleh yang sejatinya akan kita kuasai tersebut (jabatan, harta, seseorang, dll) yang kita anggap telah sukses kita raih dan miliki.

Ini tidak berarti kita tidak boleh memiliki jabatan tinggi dan kekayaan banyak, karena faktanya untuk hidup seperti biaya pangan, sandang, papan, sholat, zakat, apalagi haji tentu butuh dana tidak sedikit. Melainkan semata agar kita menempatkan makna sukses pada porsi yang tepat. Dalam arti, jika Sukses itu diartikan sebagai Berhasilnya Mencapai Jabatan Tinggi dan Kekayaan Banyak, maka setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan :
1) Niat Pencapaian Sukses
2) Proses Pencapaian Sukses dan
3) Apresiasi Hasil Sukses
ketiganya harus mengikuti Jalur Ridho ALLAH. Sebab betapa banyak orang yang terobsesi meraih sukses, namun dalam tiga hal tersebut ternyata mengesampingkan Keberadaan Aturan Hukum ALLAH, alias meng-halal-kan segala cara yang di-haram-kan-NYA, sehingga tidak peduli bila apa yang dilakukannya telah merampas hak orang lain.

Berfirman ALLAH SWT dalam Al Qur’an :
¤ Dan berapa banyak binatang yang tidak (-dapat) membawa (mengurus) rezekinya. ALLAH-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan DIA Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
{QS Al ‘Ankabuut [29] : 60}
¤ ALLAH melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-NYA di antara hamba-hamba-NYA dan DIA (-pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu.
{QS Al ‘Ankabuut [29] : 62}
¤ Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya KAMI berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akherat kecuali neraka dan lenyaplah di akherat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.
{QS Hud [11] : 15-16}

Semoga ALLAH senantiasa menuntun kita dalam menjalani hidup di dunia ini,
agar ujian apapun yang DIA berikan pada kita, apakah itu berupa :
Tingginya Jabatan dan Banyaknya Kekayaan, ataupun
Rendahnya Jabatan dan Sedikitnya Kekayaan,
tidak membuat kita semakin menjauh dari Ridho-NYA,
tidak membuat kita melupakan sifat Maha Melihat dan Maha Mendengar-NYA,
tidak membuat kita menafikan sifat Maha Mencatat dan Maha Membalas-NYA.
Amin Ya Robbal ‘Aalamiin.....

06 Januari 2010

Matematika Almanak Solar System Dalam Al Qur'an


Sistem penanggalan berdasarkan gerak matahari dikenal sebagai Penanggalan Solar System. Di Indonesia, lazim disebut dengan istilah Penanggalan Masehi atau Miladiah, meski sejatinya tidaklah tepat juga penamaan tersebut bla ditinjau dari banyak sejarah masa lampau.

Dalam Al Qur’an, salah satu dari 114 Surah yang ada, terdapat satu surah yang diberi nama / sebutan judul sebagai Surah As Syams yang artinya Matahari. Dalam Mushaf Utsmaniy, Surah As Syams ditempatkan sebagai surah ke-91 dengan jumlah ayat 15 ayat.

Satu hal yang unik sebagai kajian, ternyata bila nomor surah, yakni 91, dikalikan dengan jumlah ayatnya, yakni 15, akan didapatkan nilai : 91 x 15 = 1.365 yang ternyata memberikan petunjuk bahwa Dalam 1 tahun Solar System (masehi) adalah terdiri dari 365 hari.

Kemudian diketahui juga, satu-satunya ayat dalam Al Qur’an yang didalamnya menyebut kata Matahari (Syams) dan Tahun (Siniin) secara bersamaan dalam satu ayat, adalah pada Surah ke-10 (Yunus) ayat 5. Jika urutan Nomor Surah, yakni 10, dijumlahkan dengan nomor ayat yang menyebut matahari & tahun secara bersamaan, yakni ayat 5, maka akan didapatkan nilai : 10 + 5 = 15 yang mana merupakan total ayat dari Surah As Syams (Matahari).

Jadi, selain mengenal sistem penanggalan berdasarkan gerak bulan yang biasa disebut dengan Tahun Hijriah (Lunar Year), ternyata Al Qur’an juga menjelaskan bahwa diakui keberadaan sistem penanggalan berdasarkan gerak matahari yang biasa disebut Tahun Masehi (Solar System) yang memang sudah digunakan oleh banyak masyarakat manusia, sebelum Penanggalan Tahun Hijriah yang lebih disarankan untuk digunakan oleh Ummat Islam karena Penanggalan Hijriah terkait erat dengan waktu-waktu peribadatan Ummat Islam, seperti Puasa, Haji, dan lain sebagainya.

Selamat Menyambut Tahun Baru... Selamat Mengapresiasi Pergerakan Sang Waktu... Sesuai Sudut Pandang Keyakinan dan Tujuan Hidup Masing-masing.

Yang Gemerlap Itu Indah ~ Seperti Kembang Api Di Malam Tahun Baru ~ Tetapi Sekejap Dan Fana ~ Dimanakah Sang ke-Indah-an Abadi Berada ?! .....Semoga sempat menjumpai tahun baru berikutnya (imlek, saka, waisak, kembali lagi ke hijriah, masehi, begitu seterusnya) dalam kondisi Lebih Baik menurut Keinginan Manusiawi yang selaras dengan Pandangan-NYA hingga Sang Ajal tiba, ...amin.

“Demi Masa. Sesungguhnya Manusia Adalah Dalam Kerugian. Kecuali Mereka Yang……” QS Al Asr : 1-3.

Demikian, Wallahu A’lam Bis Showab.


Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro

Sumber Pustaka : Buku “Keseimbangan Matematika Dalam Al Qur’an” karya Abu Salmah Alif Sampayya