28 Oktober 2010

Nasi Goreng Sumpah Pemuda


Aneh... lho kok ada ya tukang nasi goreng mo pake nama racikannya yang dijual dengan nama yang aneh begitu, dalam arti, formal banget. Mungkin inilah yang akan terucap, bila judul diatas dijadikan Brosur Iklan yang dipasang di halaman utama sebuah Tabloid Kuliner.

Tetapi saya tidak sedang ingin membahas persoalan nama, karena kata Wiliam Shakespeare yang terkenal itu (entahlah, saya pun tidak kenal-kenal amat siapa dia) dia katakan, apalah arti sebuah nama?! Lho, kok dia bisa bahasa indonesia ya.... pikir saya sambil berpikir keras sekeras kepala para pemimpin negeri kalau dikasih masukan, yakni : jika si WS itu berkata demikian, kenapa teman-temannya ga panggil dia dengan sebutan; anjing, babi, monyet, maling, rampok, dan lain sebagainya yang jelek-jelek, hehehe... Tetapi bagi saya, mengikuti pendapat yang dikatakan dari Idola Saya, Muhammad Ibnu Abdillah ibnu Abdul Muthalib, bahwa Nama bagi seorang anak manusia haruslah yang baik, karena nama adalah bagian dari do’a orang tua kepada anaknya.

Kembali ke topik Nasi Goreng, sebenarnya ini adalah kisah nyata yang saya alami diawal-awal waktu setelah berhasil “mengubah status” dari waspada menjadi awas, alias dari status jejaka menjadi beristri. Begini kisahnya....

Suatu pagi dihari libur, seinget saya sih masih masa-masa yang kalo kata orang “isterinya pa’le” yang serumpun dengan PM Inggris, yakni Honey Moon, waktu masih suasana pagi, saya meminta (tentu dengan permohonan kata lembut penuh sayang, maklum masih baru dapet “SIM” dari Pak Penghulu) untuk dibuatkan Nasi Goreng. Kemudian sang isteri yang saya “jemput” dari Paris (-Van Java) itu membuatkannya lah. Sementara saya mengerjakan sesuatu yang dapat saya kerjakan, yang pasti bukan asyik nyantai nonton televisi lah.

Dan setelah Sang Permaisuri selesai membuatkannya dengan tangan lembutnya itu, sendiri, saya dipanggilnya untuk mencicipi. Dan BETAPA TERKEJUTnya saya. Ternyata nasi goreng yang saya minta dibuatkan itu, berwarna kuning dan beraroma jamu. Tau gak, ternyata Nasi Goreng itu salah satu bumbu utamanya adalah KUNYIT dan KENCUR.

Bayangkan.... sebagai makhluk yang dilahirkan di sekitar Kebon Jeruk, dan tumbuh besar sekitar kedoya, bonjer, pesing, dan Rawa Belong, mana pernah saya ketemu nasi goreng dari SPESIES BARU yang demikian (kalo kata guru biologi SMA 65, ibu teguh apa ya nama Beliau). Karena biasanya yang namanya Nasi Goreng, selain bawang merah, maka ada cabe dan aroma TERASI yang kental yang biasa dimasakkan oleh Mother. Benar-benar sebuah pengalaman memakan nasi goreng yang SERU, hehehe.... dan sebagai tanda sayang, maka nasi goreng itu, habislah.... (atau emang dasar kemaruk ye karena mungkin beberapa jam sebelumnya habis kerja keras : nguras bak mandi, misalnya).

Tapi seperti itulah. Kekuatan untuk bersama dan memaklumi serta menerima perbedaan, akan menghasilkan sinergi yang baik dan output yang menakjubkan. Sekitar sepuluh hampir sebelas bulan kemudian, dari hasil buah kerjasama yang halal lagi baik serta bergairah kami,lahirlah seorang putra sebagai Titipan-NYA pada kami. Alhamdulillah....


Akhirnya daku terpikir; bukankah perbedaan suku dan atau ras adalah dikatakan TUHAN untuk kita saling mengenal (ta'aruf)? Dan bukankah dalam sejarah perkembangan ISLAM, sering dikatakan oleh Para Pengkaji Shirah Nabawiyyah, bahwa setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah), salah satu kunci persatuan yang dibangun Beliau adalah, Pria Muhajirin (pendatang) menikahi Wanita Anshor (pribumi) dan Pria Anshor juga menikahi Wanita Muhajirin yang telah ber-Islam?


Lantas bagaimana dengan kita dan atau orang tua kita? Masihkan mensyaratkan dalam mencari Pasangan Hidup HARUS WAJIB yang se-suku?


Bila itu masih terjadi dalam pola pikir kita, maka BERTOBAT -lah dari faham Rasialis Tersebut!!! Atau kita memang memilih untuk seperti yang dikatakan Pengusung Teori Evolusi, bahwa Manusia berasal dari Primata (kera) yang notabene cenderung rasialis dan senang mencibir dari ketinggian.


Tetapi ini tidak berarti kita tidak boleh mencari pasangan hidup yang satu suku/etnis/sekampung, melainkan sebatas, jangan sampai kita memandang lebih rendah derajat orang lain, semata karena ukuran-ukuran duniawi yang telah ditakdirkan TUHAN, termasuk dalam hal perbedaan suku/ras/etnis.

Wallahu A’lam Bisshowaab....

SELAMAT MEMAKNAI HARI SUMPAH PEMUDA
28 OKTOBER 2010


Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli

Tidak ada komentar: