Pulang kerja tgl 10 Pebruari 2009, jam sudah mendekati pukul 6 petang. Ditengah perjalanan saya melihat motor yang menyalip saya, dinaiki oleh 2 orang. Yang mengemudikan motor memakai helm full face, memakai kaus oblong, dan bersandal jepit. Sedang yang dibonceng rasanya patut saya komentari.
Beliau yang dibonceng mengenakan pakaian serba putih, pakaian muslim lazim biasa disebut, ditempat saya biasa disebut Baju Koko. Beliau itu mengenakan peci yang juga putih, berumur sekitar hampir lima puluh tahun, mengenakan surban yang diselempang di pundak, sambil merokok. Beliau beberapa kali meludah seenaknya dijalan.
Melihat penampilannya, saya menduga ia cukup ‘alim (ber-ilmu, bukan ilmu kesaktian maksud saya, melainkan banyak tahu ilmu syari’ah islam). Cuma jika kita bicara saat beliau itu dijalan raya, kok sepertinya jadi aneh, apa beliau itu tidak tahu aturan lalu lintas ya ? Kalau beliau yg saya maksud itu cuma anak muda yang bercelana jeans dan kaus oblong, saya tidak tercenung. Cuma beliau itu kan seharusnya memberi contoh yang baik. Lantas siapa yang bisa diteladani ? Apakah tertib berlalu lintas tidak penting dalam berakhlak islam ? Atau soal tertib lalu lintas mesti dikeluarkan Fatwa oleh MUI ? Tapi bukankah Fatwa MUI (terutama soal rokok) banyak ditentang oleh banyak Kyai/Habib utamanya dari salah satu Ormas Islam terbesar di Indonesia ? Boleh jadi nanti malah menambah “dagelan adu argumen” antar Ulama yang membingungkan ummat yang kebanyakan awam soal Islam seperti saya.
Akhirnya saya sampai dirumah, alhamdulillah, menjelang bedug maghrib. Anak saya yang belum genap 5 tahun laporan, kakinya berdarah (sedikit) karena “tertabrak mobil” (maksudnya mobil-mobilan yang dikendalikan remote control) saat bermain lari-larian di jalan di depan rumah (maklum diperkampungan tidak disediakan lahan fasilitas umum oleh pihak kelurahan alias pemerintah). Saya tersenyum, ingat Beliau berbaju muslim di jalan raya saat perjalanan pulang tadi. Cuma anak saya belum genap 5 tahun, jadi ia tidak bisa disalahkan bermain seasyiknya di jalan umum perkampungan dengan teman-teman sebayanya. Kalaupun mau disalahkan ya saya, yang belum mampu memberikan tempat bermain yang layak untuk dia.
Menjelang tidur, seperti biasa saya biasakan membaca selembar-dualembar dari buku-buku tentang islam dari koleksi saya yang belum mencapai 30 buah buku. Malam itu yang saya baca karangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab yang berjudul “DIA Dimana-mana – Tangan Tuhan Dibalik Setiap Fenomena”. Beliau adalah Ulama favourite saya. Dalam bukunya beliau berkata, bahwa kita bisa menarik i’tibar, contoh bermanfaat dan penuh makna, meski dari hal sepele sekalipun. Begitu yang beliau nukil dari Al Qur’an.
Beliau tuliskan bagaimana Sang Timur Lank si cucu Jengis Khan yang berhasil memporak-porandakan Baghdad yang saat itu sedang jaya setelah terinspirasi melihat semut yang sanggup mengangkat beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Lalu Issac Newton yang menemukan teori gravitasi hanya dari memperhatikan secara seksama buah apel yang jatuh ke bawah. Juga archimedes yang berhasil menemukan teori berat jenis suatu benda saat ia berenang dan melihat para perenang, sehingga mampu menjawab mana emas asli dan mana yang palsu yang ditanyakan Sang Raja.
Ternyata banyak sekali petunjuk yang ALLAH swt berikan bagi kita, hanya bisakah kita memanfaatkan petunjuk yang IA berikan tersebut kepada kita, meski petunjuk tersebut pada mulanya kita pandang sepele.
Dan berhubung hari sudah hampir tengah malam, mata sudah mulai mengantuk berat, maka buku Sang Profesor Tafsir Al Qur’an yang Beliau adalah Asset Besar dan Baik yang dimiliki Muslim Indonesia itupun saya tutup, setelah berdoa dan beristighfar “secukupnya” maka saya pun merebahkan kepala ke bantal, lalu ALLAH swt mematikan sementara saya, mati kecil, alias tidur pulas.
Subhana ALLAH Al Adzim wa Al ‘Alim.
#Bang ARIN Fadilah#
12 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
Siapa Teladan kita, ya Rasulullah lah manusia yang diturunkan sebagai uswah kita. Tiada manusia yg pantas diteladani selain beliau. Para tokoh agama, para kiayi atau ulama sekalipun belum tentu cocok sebagai teladan, karena mereka manusia biasa yang ketika kita tahu ada cacat sedikit saja pada mereka, maka simpati kita otomatis berubah jadi antipati. apa lagi hanya seorang yang berpenampilan luar saja (berbaju koko pakai peci dan surban menyelempang dipundak merokok segala lagi), tidak ada padanya kewajiban menjadikan teladan justru padanya kita jadikan tempat merenung, refleksi. Dan kitalah yang Merenung bukan orang lain, betapa banyak ayat alqur'an yg diturunkan untuk orang-orang yang merenung. Setiap perumpamaan selalu diakhiri dengan kalimat "afalaa ta'qiluun", "afalaa tatafaqaruun" 'Apakah kamu tidak berakal, apakah kamu tidak berfikir'. Dan Allah mengharuskan manusia untuk merenung memikirkan ciptaan Allah siang dan malam, dikala duduk atau berbaring. Dari perenungan itu lahirlah kepedulian terhadap ayat-ayat Allah. Lahir pula kepedulian terhadap iman dan masa depan ummat ini, hingga lahir pula kepedulian terhadap sesama manusia dan alam semesta. Wallahu a'lam bishowab.
Posting Komentar