
Ada yang mengatakan, mereka yang mempertanyakan Apakah Saat Ini Indonesia Telah Merdeka Adalah Orang-orang Bodoh. Ya, secara fisik kita memang telah merdeka dari Bangsa Asing, tetapi apakah hanya sebatas itukah arti sebuah kemerdekaan bagi suatu negara dan bangsa ? Sebatas bebas secara fisik dari penjajahan asing ?
Ir. Soekarno, Sang Proklamator antara lain mengatakan, wujud merdeka itu jika Indonesia telah mampu Berdikari, Berdiri diatas kaki sendiri, setidaknya dalam Ekonomi, Politik, Hukum, dan Kebudayaan. Buya HAMKA mengatakan, makna lain dari kemerdekaan adalah keadilan, keadilan bagi seluruh rakyat indonesia. Apakah kita sudah se-merdeka Jepang yang dulu bahkan Kalah Perang di Perang Dunia II oleh Amerika dan Sekutunya ?
Buat kita yang tinggal di perkotaan mungkin Suasana Merdeka mudah dirasakan, meski belum oleh seluruh warganya. Tetapi bagaimana dengan mereka yang hidup di pelosok desa. Mereka bahkan masih susah untuk sekedar menikmati penerangan listrik, jalan beraspal, sekolah yang layak, puskesmas yang memadai, bahkan ketersediaan air bersih pun harus berjalan hingga beberapa kilometer. Bahkan mungkin Pejabat Setingkat Camat pun belum pernah berkunjung ke sekitar tempat tinggal mereka. Belum lagi mereka yang tinggal di Pulau Terluar yang lebih dekat dengan negara tetangga. Mungkin mereka bingung untuk merasa sebagai Bangsa Indonesia ataukah warga negara jiran.
Dan biasanya juga, setiap memperingati Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus, maka segera muncul isu Nasionalisme. Dari yang Para Pejuang Kemerdekaan hingga Para Politisi dan Kita Penikmat Kemerdekaan, memaknai Nasionalisme dengan sudut pandang masing-masing.
Tetapi, bagaimana memaknai nasionalisme di tengah serbuan produk-produk negara asing yang semakin mudah didapat di dalam negeri dengan kualitas dan harga yang bersaing dengan produk lokal.
Rasanya rakyat kita sudah terbiasa disuguhi iklan dan pemahaman bahwa yang dari luar pasti lebih bagus, sadar atau tidak, sengaja atau terpaksa, kita semakin memuja keunggulan Asing.
Apalagi penggusuran pasar-pasar tradisional dan pemukiman yang dianggap kumuh (padahal mereka terpaksa hidup kumuh karena gagal menerima pekerjaan dan penghidupan layak dari Pemerintah sesuai amanat UUD 1945), kemudiannya segera berdiri Pusat Perbelanjaan Modern yang menyajikan beragam Produk Luar. Bahkan Areal Gelora Bung Karno pun yang dulu hanya diperuntukkan semata untuk Pembinaan Olah Raga kini sebagiannya telah jadi Pusat Penjualan Beragam Produk Asing yang begitu menggugah selera Kaum Berduit dan juga mereka yang memaksakan diri masuk ke level tersebut.
Kita jadi terbiasa membeli dan makan buah-buahan : Durian Monthong, Apel Washington, Anggur Perancis, Melon Australi, dan Jeruk serta Lengkeng China, Jambu dan Mangga Bangkok.
Kita semakin jarang temui, khususnya di Mal dan Supermarket buah produk lokal : Mangga Indramayu, Rambutan Rapiah, Jeruk Pontianak, Salak Pondoh, Sawo, Jamblang, Buni, Jambu Air, Sawo Susu, Mangga Panjangjiwo, atau buah lokal lainnya.
Belum lagi yang berbau tekhnologi maka kita lebih memilih : Ponsel Blackberry, Mobil dan Motor Full CBU. Rokok biar keren memilih merk Marlboro, Fashion musti di Butik Luar/ Merk Luar, bahkan sakit pun lebih memilih RS Internasional. Tak luput pula sebagian besar kita lebih bangga mempelajari Ilmu Beladiri Asing seperti Karate, Judo, Taekwondo, ataupun Wushu dibadingkan Belajar Pencak Silat yang Asli Indonesia.
Dan ternyata Bahan Baku Tempe dan Tahu saja, yang merupakan Cemilan Gorengan Favourite, yakni kedelai, kita mesti impor dari Amerika. Beras juga banyak hasil impor dari Vietnam, negara yang baru selesai perang dan yang dulu belajar pertanian kepada Indonesia. Sementara lahan subur untuk pertanian disekitar Jabodetabek digusur untuk Mall, Pabrik, Perumahan, dan Pusat Hiburan.
Semakin banyak Perusahaan Makanan dan Minuman lokal yang diakuisisi Asing melalui kepemilikan modal di Pasar Saham, yang batas maksimalnya bisa hingga 93%.
Merk teh celup sudah diakuisisi asing, kecap juga, dan bank-bank juga tak luput dari Akuisisi Asing.
Sulit memang untuk lepas dari Penguasaan Asing, mulai bangun tidur hingga tidur lagi, kita telah dicengkeram dengan jeratan maha kompleks. Suka atau tidak, ini harus kita akui bersama.
Namun jika mau, kita pasti bisa, tetapi rakyat adalah pelaksana, apalagi di masyarakat yang terbiasa dengan budaya paternalistik, maka keteladanan dari Pemerintah lah yang paling utama, semoga kesadaran rakyat mengikuti.
Maka...Merdeka dan Nasionalisme itu kini... Entahlah...........
18 Agustus 2009
Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli
[Yang Belum Mampu Jadi Nasionalis Sejati Menurut Definisi Para Legiun Veteran RI]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar