Andaipun ada yang menganggap malas dan bodoh, faktanya kerbau kerap bekerja keras membantu petani membajak sawah, dan pandai bertasbih pada ALLAH menurut cara yang DIA ilhamkan pada mereka {QS 7: 54, QS 16 : 49-50, QS 22 : 18}. Bagaimana dengan kebanyakan kita, bangsa manusia ?!
Baik binatang maupun manusia itu diciptakan secara fitrah memiliki kecenderungan memenuhi kebutuhan hawa nafsu. Adapun perbedaan yang sangat mendasar dari keduanya adalah dalam “Proses Pemenuhan Hawa Nafsu”.
Binatang, oleh karena mereka tidak diberi akal, maka naluri kecenderungan pemenuhan hawa nafsunya hanya sebatas fitrahnya. Misalnya, bila lapar lantas mereka pun akan segera mencari makanan untuk dimakan. Setelah kenyang mereka akan diam dan tidur-tiduran.
Adapun manusia, di samping memiliki kecenderungan hawa nafsu untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik nafsu makan ataupun nafsu kebutuhan biologis, selain itu pula manusia diberi akal. Semestinya dengan akalnya ini manusia harus lebih bisa mengendalikan hawa nafsunya dibanding dengan binatang. Tetapi dalam realita kehidupan, kita selalu menyaksikan hampir pada setiap zaman justru sebagian besar manusia itu lebih tidak terkendali dalam memenuhi kebutuhan hawa nafsunya dibanding dengan binatang. Ini terjadi akibat akal yang seharusnya berfungsi mengendalikan hawa nafsu, namun pada prakteknya malah dikendalikan hawa nafsu. Sekan-akan tugas dan fungsi akal hanyalah memikirkan bagaimana caranya untuk memuaskan hawa nafsu.
“Dan sesungguhnya KAMI jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat ALLAH) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan ALLAH), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat ALLAH). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. {Al A’raaf (7) ayat 179}.
Wallahu A’lam.
Taken & Inspired : “Manusia dan Akal” @ Republika Online, serta “Curhat Beliau”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar