
Banyak ragam penafsiran mengenai kata ‘AHLUL BAIT’ yang oleh mereka dari yang menamakan Muslim Sunni atau Muslim Syi’ah juga Kelompok Muslim Lainnya. Bahkan tidak sedikit memunculkan sifat pengagungan berlebihan (ghuluw) pada manusia, entah itu Ulama/Habib atau Imam/Umaro yang mereka sebut sebagai Ahlul Bait.
Tetapi hanya tiga inilah yang saya ketemukan mengenai hal tersebut di dalam Al Qur’an :
QS Hud (11) : 73
“Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."
QS Al Qashash (28) : 12
“dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?".
QS Al Ahzab (33) : 33
“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
Pada QS Hud (11) ayat 73, Ahlul Bait merujuk pada Isteri Nabi Ibrahim.
Pada QS Al Qashash (28) ayat 12, Ahlul Bait merujuk pada Ibunda Nabi Musa.
Pada QS Al Ahzab (33) ayat 33, Ahlul Bait merujuk pada Isteri Nabi Muhammad.
Dan saya tidak menemukan makna lain atau perujukan lain daripada itu di dalam Al Qur’an.
Boleh jadi ini menandakan bahwa Bagi Para Wanita Beriman (sebagimana isteri dan ibunda Nabi-Nabi tersebut), bahwa "Medan Jihad Utama" mereka untuk meraih sebanyak-banyaknya Ridho-NYA dan Pahala-NYA adalah di dalam (sekitar) Rumahnya Sendiri (QS 33 ayat 32-35), sebagai Ibu dan Isteri yang menjadikan Suami tetap selalu dalam ketaatan Pada-NYA dan membina anak-anaknya menjadi Hamba-hamba ALLAH yang tangguh dalam Ubudiah dan Muamalah (aqidah & akhlak) hingga meraih sukses dalam ‘naungan dan standar’ Ridho-NYA. Ibu dan Isteri yang sholehah.
Mungkin itulah kenapa mereka dijuluki dengan AHLUL BAIT, yang diantara maknanya : Penghuni Rumah, Sang Pengatur Rumah, Ratu Rumah Tangga, Ibu Rumah Tangga, dan yang sejenisnya.
Al Haq Min Robb, Wallahu A’lam....
Fadiel Aburafa
Belajar Meniti Jalan Iqro Dalam Keterbatasan Aqli dan Naqli
http://forum-iqro.blogspot.com/

5 komentar:
Dlm Al Quran yang menyebut 'ahlulbait', rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.
1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan kebrkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah".
Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah isteri dari Nabi Ibrahim.
2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: 'Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu 'ahlulbait' yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?
Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna 'ahlulbait' adalah Ibu Nabi Musa As. atau ya Saudara Nabi Musa As.
3. QS. 33:33: "...Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu 'ahlulbait' dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya".
Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW. Sedangkan sesudah ayar 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. isteri plus anak-anak beliau.
Coba baca catatan kaki dari kitab: Al Quran dan Terjemahannya, maka ahlulbaik yaitu KELUARGA RUMAHTANGGA RASULULLAH Berarti kel Saidina Muhammad SAW yg seharusnya, kedua orang tua beliau, tapai keduanya belum Muslim dan sudah meninggal, diri saidina Muhammad SAW sendiri, atau saudara kandungnya (tapi beliau anak tunggal), isteri-isterinya, anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan, sayangnya anak beliau yang lelaki tak ada yang sampai besar, tidak meninggalkan anak keturunan.
Keturunan Bunda Fatimah, Hasan, Husein dan lainnya yg perempuan ya tidak lagi masuk ahlul bait krn. nasabnya Saidina Ali bin Abi Thalib. Krn Al Quran hanya mengenal nasab dari laki-laki kecuali Isa bin Maryam (QS. 33:4-5)
QS 33:34 adalah kelanjutan ayat-ayat sebelumnya.
QS 33:37 dan 40 adalah membicarakan persoalan lain.
Kalau Ahlul Bait maknanya dibatasi hanya spt yg dimaksud terjemah yg umum (keluarga Nabi Muhammad SAW) maka bagaimana dg QS 11:73 dan QS 28:12? Masa' sih dianggap angin lalu.
Tetapi jika saudara mau berpendapat sebagaimana saudara tulis, maka silahkan saja, karena Ijtihad dan Pemahaman adalah Wilayah Khilafiah, dan Hanya ALLAH Yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.
Syukron.....
Saudara memilih mempersempit makna Ahlul Bait sbg Keluarga Nabi Muhammad ketika Beliau masih hidup saja.
Sementara anee lebih suka meluaskan makna tetapi terbatas pada Kaum Hawa semata yg menjadi Ummat Rosulullah SAW dg menjadikan Para Isteri Nabi sbg Panutan Utama.
Sementara soal bahwa "Keturunan Bunda Fatimah, Hasan, Husein dan lainnya yg perempuan ya tidak lagi masuk ahlul bait krn. nasabnya Saidina Ali bin Abi Thalib. Krn Al Quran hanya mengenal nasab dari laki-laki kecuali Isa bin Maryam (QS. 33:4-5)" maka ane mengatakan bahwa Pengkultusan Keturunan Nabi Muhammad SAW dari Garis Fatimah dgn ALi adalah Ketidaktepatan Memahami Perintah Memuliakan Nabi.
Wallahu A'lam...
Inilah mukjizat Allah SWT pada Nabi kita Muhammad SAW, nasab beliau diputuskan supaya tidsak ada yang mengklaim ‘mereka’ adalah keturunan dari Saidina Muhammad SAW, yang lebih dikenal dengan sebutan 'keturunan nabi atau keturunan rasul'. Jadi jika merujuk pada QS. 33:4-5 jelas bahwa nasab itu hanya diambil dari pihak laki-laki bukan perempuan.
Apabila dikaitkan dengan kajian kita tentang ahlul bait, dengan beberapa surat dan ayat-ayat Al Quran, otomatis mahkota ‘ahlul bait’ dari keluarga Saidina Muhammad SAW itu terputus sampai Bunda Fatimah saja. Artinya anak-anak dari Saidina Ali bin Abi Thalib, otomatis hanya bernasab pada Saidina Ali bin Abi Thalib sehingga tidak mewarisi tahta ‘ahlul bait’.
Apa hikmahnya semua skenario Allah SWT di atas, baik kelompok Syiah maupun habaib yang sama-sama mengaku keturunan ‘ahlul bait’ tidak perlu bertengkar lagi karena mahkota ‘ahlul bait’ yang diperebutkannya itu memang ‘sudah’ tak ada lagi.
Oleh karena itu, wahai umat Islam, wahai umat Muhammad SAW, tak perlu memperebutkan dinasti ‘keturunan’-nya, karena di sinilah letak keadilan Allah SWT Yang Maha Adil, besok dihadapan Allah SWT kita akan mempertanggungjawabkan diri kita masing-masing, tak ada pilih kasih, ooo itu keturunan ini, oo itu keturunan itu dsb
Yups, kemuliaan itu adalah soal kualitas taqwa dan bukan karena garis keturunan, demikian islam yg kita sama-sama pahami.
Jadi biarlah kita jadi penonton yg cukup senyum-senyum geli melihat mereka-mereka yg saling klaim lebih layak dimuliakan karena (merasa) keturunan garis Muhammad Sang Nabi (padahal menyimpang soal nasab yg selain Almasih bin Maryam dan Adam AS, maka semua garis keturunan adalah mengacu pada sang bapak dan bukan kepada garis ibu). Syukron atas mampirnya, saudaraku.
Posting Komentar