Saya pikir, semenjak euforia penurunan rezim orde baru tahun 1998, banyak hal yang menjadi kurang terurus, entah karena mengapa. Misalkan saja soal tertib berlalu lintas, khususnya di Jakarta, khususnya lagi oleh pengendara sepeda motor.
Rasanya “srabat-srobot” berlalu lintas oleh pengendara sepeda motor makin menakutkan. Saya sendiri menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi utama untuk bekerja dan urusan lainnya. Tapi saya sendiri sering merasa tidak nyaman dengan pengendara sepeda motor di Jakarta, yang rasanya “sangat bangga” jika bisa melanggar peraturan lalu lintas. Zig zag seenaknya, menerobos lampu merah, saling salip, knalpot bising, klakson yang beruntun jika jalan sedikit melambat, dan hobi “memakan jatah” para pejalan kaki di trotoar dan zebra cross. Jika ada pengendara sepeda motor lain yang berusaha tertib di pemberhentian lampu merah, maka yang dibelakang akan segera “melantunkan simfony” klakson yang memekakkan telinga, bahkan sering ditambah dengan hujatan kepada pengendara sepeda motor yang tertib.
Padahal saya yakin, para pengendara sepeda motor banyak yang sudah tamat SMA/SMU. Tapi megapa kelakuan mereka semakin menjauhkan dari kesan sebagai manusia sekolahan ?
Lalu kemana para petugas penegak disiplin berlalu lintas di Jakarta ?
Apakah ini juga kesalahan para kyai/rohaniawan yang hanya menekankan bahwa kepatuhan hukum hanya untuk ibadah berbonus surga di akhirat saja, sementara hukum negara tidak masuk dalam kebaikan beragama ?
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
04 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar