Anda pernah mendengar ceramah kyai/ustadz/ulama/habib yang berbicara pentingnya untuk belajar ILMU AGAMA ? Kalau saya sering sekali, bahkan sedari saya SD. Lantas, apa saja yang oleh ustadz tersebut dianggap ilmu agama ? Jawabannya pasti ilmu fiqih, ilmu tajwid, ilmu qiroah, ilmu nahwu syorof, dan segala yang menyangkut ibadah ritual atau akhirat.
Lantas bagaimana dengan fisika, biologi, matematika, farmasi, atau tata negara ? Yang sering kita dengar maka para ustadz akan menyebut ilmu-ilmu tersebut sebagai ILMU UMUM, itu artinya tidak termasuk ilmu agama.
Inilah kesalahan besar, membuat dikotomi ilmu menjadi Ilmu Agama dan Ilmu Umum. Akibat kesalahan pola pikir dan lalu disampaikan ke ummat, maka jadilah ummat islam tertinggal jauh, jauh sekali dalam hampir segala bidang kehidupan.
Para ustadz/kyai/ulama yang membuat dikotomi ilmu (atau memahami ilmu sebagai dikotomi) itu pasti rajin membaca Al Qur’an, dan banyak yang mengerti terjemahnya. Cuma herannya mereka seperti tidak pernah tahu, bahwa ALLAH melalui Al Qur’an banyak menjelaskan fenomena keilmuan termasuk soal fisika, matematika, biologi, pemerintahan, sosial, dan lain sebagainya. Bukankah itu artinya bahwa ilmu-ilmu yang selama ini dianggap sebagi ilmu umum sebenarnya juga adalah ilmu agama ? Menjadi satu kesatuan ? Tanpa Dikotomi ?
Bayangkan, jika banyak ummat islam yang pandai matematika, biologi, fisika, kimia, sosiologi, dan lain sebagainya, maka pesawat terbang, satelite, pesawat antariksa, mesin-mesin pertanian, obat-obatan, alat-alat kesehatan, hingga persenjataan mutakhir serta media informasi dan komunikasi akan banyak dihasilkan oleh umat islam. Dan itu akan punya kontribusi besar bagi ibadah-ibadah ritual ummat islam.
Bukankah untuk berhaji dengan nyaman, kita butuh pesawat terbang, kapal laut, dan mobil untuk alat transportasinya ?
Bukankah televisi, radio, dan telepon serta media internet sangat besar perannya dalam menyebarkan informasi mengenai ajaran islam ?
Bukankah alat-alat pertanian dan alat-alat kedokteran modern besar pengaruhnya bagi perbaikan kondisi kehidupan ummat islam ?
Bukankah jika mengusai persenjataan dan kendaraan tempur maka ummat islam akan dihormati dan dihargai oleh ummat-ummat lainnya ?
Sayang, segala tehnologi diatas tidak dikuasai umat islam, akibat para ustadz/kyai/ulama hanya menggiring umat untuk kehidupan akhirat saja, dan tidak merasa penting akan kebaikan hidup dunia. Dan akibatnya seperti sekarang ini, ummat islam meskipun besar jumlahnya namun sedikit kontribusinya bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi manusia.
Umat islam hanya sebagai pengguna saja, pengguna pesawat terbang, pengguna jasa satelit, pengguna telepon seluler, pengguna televisi dan radio, pengguna mobil dan motor, pengguna mesin-mesin kedokteran, hanya sebatas pengguna.
Jika Rosulullah Muhammad saw masih hidup, tentu Beliau akan “sedih” melihat “ketidakmampuan” ummatnya kini. Mereka seperti “hanya” sibuk bertentangan masalah penentuan tanggal 1 Romadhon dan 1 Syawal, masalah doa qunut, masalah hukum tahlilan, masalah cukur kumis pelihara jenggot, masalah tambah isteri, masalah jumlah rakaat tarawih, masalah berbaju gamis atau baju koko dengan celana gantung diatas mata kaki, dan masalah remeh temeh lainnya.
Sampai kapan Para ustadz/kyai/ulama/habib menyadari bahwa kebaikan (kesuksesan) hidup di dunia akan memudahkan kita memperoleh kebaikan (kesuksesan) hidup di akhirat ?
Sampai kapan Dikotomi Menyesatkan tantang ilmu ini akan dipertahankan ?
*Abu Rafa Ibnu Nasuki*
09 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
Dikotomi ini terjadi setelah perang salib, dimana sejak perang salib ummat islam mengalami kemunduran dahsyat dalam ilmu pengetahuan. Harta pusaka mereka dibawa kabur oleh pasukan salib dan mereka pelajari untuk kemudian menjadi renaisance eropa. Coba lihat film robbinhood, disana tergambar teman robinhood yang muslim dan berkulit hitam menunjukan kebolehannya membuat bom, yg membuat tercengang para pengkiut robin. Di scene lain sang teman muslim memiliki teropong. Sedang Robinhood bagai orang "bego" ketika bisa melihat jauh dengan teropong tsb. Kalimat yg diucapkan sang teman muslim "bagaimana kalian bisa menguasai yerusalem jika dengan benda ini aja kalian tidak mengerti" membuat keyakinan kita bahwa jaman pra perang salib ilmu tidak pernah didikotomikan oleh umat islam. Epik robinhood terjadi di akhir perang salib
Yaps...
itu masalah berat yg harus kita (generasi dibawah 40th) luruskan, agar Dikotomi Ilmu jadi "wassalam".
Thanks.
Posting Komentar